Home > Ilmu > Jangan sampai masuk ke dalam golongan orang-orang munafik

Jangan sampai masuk ke dalam golongan orang-orang munafik

Disampaikan oleh ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas, di Masjid Imam Hanbal Bogor, 6 September 2009 dengan temaimages (1) “Sifat Munafiq dalam Al Qur’an dan Sunnah

Assalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Kaum munafik berbeda dengan kaum kafir, munafik adalah sifat berbahaya lagi tercela yang harus kita hindari dari hati kita. Kewajiban kaum muslim memerangi kaum munafik dengan hujjah. Lalu apa itu munafiq?

Munafiq atau Nifaq
A. Definisi

Nifaq berasal dari kata nafaqa, yunafiqu, nifaqan wa munafaqatan yangt diambil dari kata naafiqaa’. Secara bahasa berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, dimana bila ia dicari dari salah satu lubang maka ia keluar dari lubang lainnta. Atau bisa diartikan memiliki dua lubang (wajah).
Secara syara’ berarti menampakkan keIslaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dikatakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain. Karena itu Allah memperingatkan dalam firman-Nya :
”….Sesungguhnya orang-orang munafiq itu mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (QS. At-Taubah : 67)
Yaitu mereka yang keluar dari syari’at. Menurut al-Hafizh Ibnu Katsir mereka adalah orang-orang yang keluar dari jalan kebenaran masuk ke jalan kesesatan.

Allah menjadikan orang-orang munafiq lebih jelek daripada orang-orang kafir. Allah berfirman :
”Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’ : 145)

Allah subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :
”Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka… ” (QS. An-Nisaa’ : 142)

B. Jenis Nifaq
Dibagi menjadi dua :
1. Nifaq I’tiqadi (keyakinan)
Yakni nifaq besar dimana pelakunya menampakkan keIslaman tetapi menyembunyikan kekufuran. Nifaq jenis ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka. Allah menyifati para pelakunya sebagai orang yang tidak beriman / fasiq, memperolok-olok dan mencaci agama Islam dan para pengikutnya, dan memiliki kecenderungan kepada musuh-musuh Islam untuk bergabung dan memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap jaman. Nifaq jenis ini ada empat macam :

- mendustakan Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa
- membenci Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam atau membenci sebagian dari apa yang beliau bawa
- merasa gembira dengan kemunduran agama Islam
- tidak senang dengan kemenangan Islam

Hal ini bisa kita dapati dalam masyarakat kita, bahwa ada sebagian orang yang justru memperolok-olok umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam. Mereka mencela ikhwan yang memelihara jenggot, yang menghindari isbal, atau akhwat yang mengenakan niqob (cadar). Mereka justru menyambut dengan baik ajaran-ajaran yang bersumber dari Barat negerinya orang-orang kafir. Na’udzubillah…

Timbulnya sifat munafiq karena dua tonggak yakni Dusta dan Riya’. Agar kita terhindar dari sifat munafiq maka hindarilah Dusta dan Riya’.

2. Niqab ’Amali (perbuatan)
Yaitu melakukan perbuatan orang-orang munafiq tetapi masih ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi menjadi wasilah (perantara) pada hal – hal yang demikian. Sabda Nabi sholallahu’alaihi wassalam :
”Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu karakter dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya : (1) jika dipercaya ia berkhianat, (2) jika berbicara ia berdusta, (3) jika berjanji ia memungkiri, (4) jika bertengkar ia melewati batas.” ( HR. Bukhari (no. 34,2459,3178), Muslim (no.58))

Terkadang pada diri seorang hamba terkumpul kebiasaan-kebiasaan baik dan buruk, perbuatan iman dan perbuatan kufur dan nifaq. Karena itu, ia mendapatkan pahala dan siksa sesuai konsekuensi dari apa yang ia lakukan, seperti malas dalam melakukan sholat berjama’ah di masjid. Sifat nifaq adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, sehingga para Sahabat begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifaq.
Lalu bagaimana dengan kita?

C. Perbedaan antara Nifaq Besar dan Nifaq Kecil
1. Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
2. Nifaq besar adalah berbedanya lahir dan batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah bedanya lahir dan batin dalam hal perbuatan bukan keyakinan.
3. Nifaq besar tidak bisa terjadi dari seorang Mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang Mukmin
4. pada umumnya pelaku nifaq besar tidak bertaubat hingga akhir hayatnya, sedangkan pelaku nifaq kecil Allah subhanahu wa Ta’ala mengampunkan dosanya. Allah berfirman :
” Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Al Baqarah : 18)

D. Sifat-sifat munafiq secara umum (qauliyah & fi’liyah)
1. Menyalahi janji bersama Allah Azza wa Jalla
” Dan mereka (orang-orang munafik) berkata ”Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya).” Tetapi sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur : 47)
Lihat juga dalam QS. At-Taubah : 75 – 77 yang menjelaskan bahwa salah satu ciri orang munafik adalah bakhil, kikir, enggan bersedekah.

2. Malas melaksanakan sholat dan sholat berjama’ah
Mereka berat untuk melaksanakan sholat Isya’ dan Subuh secara berjama’ah.
Dalam shahih Muslim dari Ibnu Mas’ud juga, ia berkata: “Siapa yang ingin bertemu dengan Allah esok hari dalam keadaan sebagai seorang muslim, maka hendaklah dia menjaga shalat-shalat ini ketika diserukan adzan baginya. Karena Allah telah mensyari’atkan Sunnah-Sunnah yang berisi petunjuk bagi Nabi kalian, dan shala-shalat pada saat ada adzan baginya termasuk Sunnah-Sunnah yang berisi petunjuk itu. Kalau kalian shalat di rumah-rumah kalian , sebagaimana orang-orang yang tidak turut berjama’ah shalat di rumahnya, niscaya kalian akan meninggalkan Sunnah Nabi kalian. Dan bila kalian meninggalkan Sunnah Nabi kalian, pasti kalian akan sesat. Bila seseorang bersuci kemudian dia melakukannya dengan baik, kemudian menuju salah satu mesjid, maka Allah akan mencatatkan untuknya satu pahala bagi satu langkahnya. Dan mengangkatnya karena satu langkah itu satu derajat. Dan menghilangkan baginya karena langkah itu satu dosa. Kami (para sahabat) berpendapat bahwa tidak ada seseorang yang tidak ikut berjama’ah, kecuali doa seorang munafik yang tidak diragukan kemunafikannya. Dan dimasa itu seseorang ada yang mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah dalam keadaan dipapah dua orang sampai masuk kedalam shaf.”

3. Mereka bersandar pada luasnya rahmat Allah dan tidak melakukan amal sholeh (QS. Al-Haadid : 13)
4. Mereka berpaling dari memohon ampun kepadaAllah dan bertaubat (QS. An-Nisaa’ : 64)
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ
“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sehingga dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Thabrani dan Tirmidzi, beliau menghasankan.)
Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, pernah memberikan perbandingan antara seorang mukmin dan munafik. Terutama, tentang cara mereka menilai sebuah dosa. Beliau r.a. berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang munafik (fajir) tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)

5. Mereka sedikit ingat kepada Allah subhanahu wa Ta’ala (QS : AL Mujadalah)
6. Mereka tidak memahami isi Al Qur’an dan tidak mau mentadaburkan isi Al Qur’an (QS. Al-Isra’ : 45 – 46). Sehingga orang-orang munafik adalah mereka yag tidak paham agama Allah.

7. Mereka tidak beriman kepada qodo’ dan qodar. Meraka jatuh ketika mendapat cobaan dan ujian. Apabila mereka mendapat nikmat mereka beriman, tetapi ketika mendapat cobaan dan ujian mereka berpaling.
8. Memperolok-olok dan mengejek orang-orang yang beriman (QS. Al Baqarah : 14 – 15)
Dari surat tersebut orang-orang munafik dicirikan dengan :
- Istija’ (suka mengolok-olok)
- Zhalim
- Dibutakan oleh hawa nafsunya (tetap dalam kesesatannya)
- Orang-orang yang bodoh
- Orang-orang yang sesat
- Mereka menyangka telah beramal padahal tidak
- Mereka adalah orang-orang yang rugi karena mereka merupakan orang-orang yang tidak mengikuti petunjuk
9. Mereka menyuruh kepada yang munkar dan mencegah yang ma’ruf (QS. At-Taubah : 67 – 68)

Catatan :
a. Orang munafik tidak sama dengan orang yang jahil (tidak ada ilmu).
Apabila ia tahu tentang agama dan sunnah tetapi ia mengejeknya maka ia bisa menjadi seorang yang murtad. Sebaliknya apabila ia jahil (tidak paham mengenai agama dan sunnah) tetapi ia mengejeknya maka ia melakukan dosa besar.
b. Kita dilarang untuk sembarangan menyebut atau menuduh saudara kita sebagai seorang yang munafik. Jika memang ada segolongan orang yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits shahih sebagai orang munafik, maka yang menentukan adalah para ulama. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari fitnah dan perpecahan, di antara umat Islam. Sebagaimana kita diperintahkan untuk menjaga lisan.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al Israa’:36)

dan Sabda Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam :
“…..Maukah engkau kuberitahu kunci semua itu? Aku Menjawab, “Tentu wahai Rasulullah, “Beliau kemudian memegang lisannya dan bersabda:”Jagalah ini atasmu”, Aku berkata;”Apakah kita akan disiksa atas ucapan yang kita ucapkan?. Beliau kemudian bersabda; “Celakalah Ibumu wahai Mu’adz, adakah yang menyebabkan manusia tersungkur diatas wajah atau hidung mereka di dalam api neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka?” (Riwayat Tirmidzi, dari Muadz bin jabal _ dishahihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil (2/138-141)

Wallahu’alam bishawab
Wassalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Categories: Ilmu
  1. bagus tejo pramono
    September 8, 2009 at 9:40 am | #1

    subhanallah….
    artikelnya menarik pisan.

    dan alhamdulillah tampilannya baru.

  2. September 10, 2009 at 4:29 am | #2

    posting yang sangat bermanfaat kak rousta…
    dilanjutkan kembali ya menulisnya. ^_^

  3. September 11, 2009 at 5:39 am | #3

    Jazakumullah khayran atas artikelnya, mba ros ” sebaik – baik manusia yang paling bermamfaat bagi manusia ” terakhir mari kita renungkan ayat di dalam surah ash – shof ayat : 2 – 3 and surah al – baqarah ayat : 44 . tapi afwan ya ana ada sedikit pertanyaan yang urutan ke 5 ” surah al – mujadalah ayat keberapa ya, mba ros ?? ” yang tahunya selama ini yang urutan ke 5 itu ada di surah an – nisa’ ayat : 142 . wallahu ta’ala a’lam

  4. mencarimaknahidup
    September 11, 2009 at 10:06 am | #4

    @ mas Tejo : ^^ terima kasih, semoga bermanfaat
    @ mas Didit : iyaaa terima kasih… ^^d
    @ akh abu : waiyyakum, ustad Yazid waktu itu juga tidak menyebut ayatnya… afwan jiddan nanti saya koreksi. ^^

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: