Home > Ilmu > PEMAKNAAN IDEOLOGI PARTAI POLITIK BERAZASKAN ISLAM DI MEDIA OLEH DOSEN

PEMAKNAAN IDEOLOGI PARTAI POLITIK BERAZASKAN ISLAM DI MEDIA OLEH DOSEN

(Analisis Pemaknaan Ideologi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Koran Kompas oleh Dosen Universitas Indonesia)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Kualitatif Semester Genap

images2

nb : saya bukan orang PKS  :D

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang Masalah

Dalam setiap pergantian pemerintahan, Indonesia mengalami penerapan sistem politik yang berbeda. Setelah masa reformasi, yang ditandai dengan runtuhnya pemerintahan orde baru, sistem pemerintahan Indonesia berupaya untuk mengadopsi dan menerapakan sistem demokrasi. Salah satu indikatornya adalah bertumbuh-kembangnya partisipasi politik warga negara. Pertumbuhan partisipasi politik di Indonesia dapat dilihat dari gejalanya, yakni semakin banyaknya partai politik yang tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan ini tidak hanya dari aspek kuantitas tetapi juga dari aspek keragaman ideologi partai politik yang dianut. Salah satunya adalah munculnya kembali partai-partai politik yang mengusung azas keagamaan dalam ranah politik, khususnya azas Islam.  Indonesia sebagai negara yang hampir semua penduduknya beragama Islam memiliki beberapa partai politik yang berazaskan Islam. Sebut saja seperti Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah, dan Partai Bintang Reformasi. Dalam penelitian ini objek penelitian yang dipilih adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pilihan ini didasarkan pada fakta bahwa PKS, sebagai partai politik berazaskan Islam dan tergolong baru, mengalami peningkatan suara yang sangat signifikan dari pemilihan umum (pemilu) tahun 2004 dan 1999. Peningkatan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan partai politik lain yang sama-sama berazaskan Islam dan cukup signifikan jika dibandingkan dengan partai politik lain yang sekuler (bukan berideologikan agama). Hal tersebut terlihat dalam data berikut ini[1] :

Perbandingan Jumlah Perolehan Suara Partai-partai Islam dalam pemilu 2004 dan Perolehan Kursi tahun 1999 dan 2004

No Nama Partai Jumlah Suara Kursi 2004 Kursi 1999
1 Partai Bulan Bintang 2,965,040 11 13
2 Partai Persatuan Pembangunan 9,226,444 58 58
3 Partai Persatuan Nahdlatul Ummah 890,980 0 5
4 Partai Keadilan Indonesia 8,149,457 45 7
5 Partai Bintang Reformasi 2,944,529 14 0

 

 

Perbandingan Jumlah Perolehan Suara 6 besar Partai Politik dan Perolehan Kursi tahun 1999 dan 2004

No Nama Partai Jumlah Suara Kursi 2004 Kursi 1999
1 Partai Golongan Karya 24,461,104 128 118
2 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 20,710,006 109 151
3 Partai Demokrat 8,437,868 55 0
4 Parta Amanat Nasional 7,255,331 53 34
5 Partai Kebangkitan Bangsa 12,002,885 52 51
6 Partai Keadilan Sejahtera 8,149,457 45 7

Berdasarkan kaitannya dalam sebuah proses komunikasi politik, penggambaran terhadap partai politik tidak lepas dari peranan media. Penyajian tentang berita politik di media tidak lepas dari hubungan antara pers atau media dengan pemerintah. Penyajian berita politik kepada pembaca, pendengar, atau penonton merupakan hasil dari urutan pilihan kebijakan yang dicapai di dalam organisasi berita mengenai hal apa yang akan disajikan, berapa banyak ruang dan waktu yang disediakan untuk berita tersebut, dimana penempatannya (halaman), dan hal-hal penting lainnya. [2] Oleh sebab itu proses pemaknaan ini tidak bebas nilai, melainkan dipengaruhi oleh ideologi media itu sendiri. Hal ini mengakibatkan gambaran ideologi partai politik bisa berbeda-beda dalam media yang berbeda. Tampilan PKS di media pun tidak terlepas dari isu dan simbol Islam yang menjadi implementasi ideologi PKS. Posisi kritis peneliti dalam masalah ini adalah bahwa terdapat hubungan tarik menarik antara ideologi media dengan berita tentang partai politik dengan ideologi tertentu yang ditampilkan di media tersebut. Ideologi Islam yang diusung PKS akan dimaknai secara berbeda oleh khalayak. Hal ini karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat plural yang telah dibentuk untuk berpikir nasionalis dengan upaya-upaya hegemoni melalui nasionalisme yang diajarkan pemerintah Orde Baru.

Tidak jarang bahwa realita yang ditampilkan di media dianggap sebagai realita yang sebenarnya oleh khalayak. Dalam pengertian ini maka bisa saja terjadi transfer ideologi dari media ke khalayak secara tidak sadar. Tetapi jika menggunakan kajian cultural studies yang kritis, khalayak tidak bisa hanya dilihat sebagai pihak yang pasif, menerima mentah-mentah apa yang disampaikan oleh media, melainkan menjadi pihak yang aktif memberikan makna tentang isi media berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Berangkat dari masalah ini, peneliti ingin melihat dan memaparkan bagaimana khalayak, dalam hal ini pembaca Koran Kompas, memaknai gambaran ideologi PKS yang ditampilkan di Koran Kompas.

Dalam penelitian ini peneliti memilih subjek penelitian yakni kalangan dosen Universitas Indonesia (UI). Hal ini dengan alasan bahwa dosen adalah golongan intelektual memberikan andil besar dalam membentuk pemahaman politik di kalangan mahasiswa (pendidikan politik selama di kampus). Sebagai kalangan akademisi, dosen memiliki pertimbangan khusus dalam memberikan makna terhadap isi media. Penelitian yang dilakukan yakni berupaya mencari tahu dan memaparkan bagimana pemaknaan dilakukan oleh dosen UI tentang ideologi PKS di media yang juga dipengaruhi oleh latar belakang personal dan sosial subjek penelitian.

Media yang dipilih oleh peneliti adalah Koran Kompas, dengan alasan bahwa koran Kompas memiliki azas yang berbeda dengan PKS dan Oplah koran Kompas adalah yang terbesar di Indonesia dengan jangkauan nasional bahkan memiliki pelanggan yang loyal. (media scene 2006)

 

I.2. Permasalahan

Permasalahan penelitian oleh peneliti dirangkum menjadi beberapa pertanyaan penelitian, yakni :

  1. Bagaimana ideologi PKS dikonstruksi oleh media (khususnya yang berbeda azas dengan PKS)?
  2. Bagaimana PKS dimaknai oleh khalayak media (dosen pembaca koran Kompas)?
    1. Dosen pembaca Kompas dapat dibagi menjadi 3 kategori posisi dalam melakukan interpretasi ini :

- Dominan Position : memberikan gambaran positif terhadap ideologi PKS seperti             yang ditampilkan Kompas.

- Negotiated Position : tak hanya memberi makna positif tetapi juga negative                     terhadap ideology PKS yang ditampilkan Kompas.

- Oppositional Position : memberikan makna negatif terhadap ideologi PKS yang                          ditampilkan Kompas

 

I.3. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui pemaknaan dosen Universitas Indonesia pembaca koran Kompas terhadap ideologi partai politik yang berazaskan Islam.
  2. Mengetahui latar belakang pribadi, sosial, dan budaya yang membentuk pemaknaan tersebut
  3. Mengetahui karakteristik dosen yang memiliki pemaknaan dominan, negotiated, dan oposisi

I.4. Signifikansi Penelitian

I.4.1. Akademis

Memperkaya studi pemaknaan terutama tentang partai politik Islam di media yang azasnya berbeda . Dalam hal ini khalayak dilihat sebagai pihak yang aktif.

I.4.2. Praktis

Memberi masukan pada pekerja media untuk menyajikan berita yang berimbang mengenai partai politik yang berbeda azas dengan azas media.

I.4.3. Sosial

Membantu masyarakat untuk melihat gambaran partai politik di media dengan lebih kritis.

 

BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN

 

II. 1. Analisis Pemaknaan dan Studi Khalayak dalam Cultural Studies

Studi resepsi khalayak (reception analysis) adalah aliran modern cultural studies yang dikembangkan untuk memahami polisemi sebagai sebuah interpretasi teks. Berangkat dari konsep khalayak sebagai produsen makna aktif, studi resepsi melihat makna tidak inheren pada teks. Makna justru terbentuk saat resepsi terjadi dan bergantung pada beragamnya konteks sosial khalayak. Karena meski teks sudah dianalisis sedemikian rupa, masih ada ketidakpastian dalam menentukan bagian atau makna yang mana yang direspon oleh khalayak secara aktif. [1]

Dalam teori ini terdapat asumsi bahwa audiens selalu aktif dan bahwa isi media selalu bersifat polisemi atau terbuka untuk diinterpretasi. Asumsi diatas berarti bahwa mayoritas audiens secara rutin memodifikasi atau mengubah berbagai ideologi dominan yang dirfleksikan oleh isi media.

Reception analysis menggunakan istilah “komunitas interpretatif” (downing, et.al, 1995:214) untuk menggambarkan kumpulan orang yang membuat interpretasi.

Keaktifan khalayak mengkonsumsi pesan media massa menurut pandangan reception studies

Konsentrasi uraian ini adalah kerangka kerja yang mendominasi penelitian terhadap penonton, yaitu pandangan khalayak aktif. Pandangan ini menyatakan bahwa khalayak bukanlah orang bodoh secara kultural melainkan produsen makna aktif dalam konteks budaya mereka sendiri (Barker, 2004:281).

 

II.2. Kerangka Pemaknaan Stuart-Hall : Encoding-Decoding

Model encoding-decoding terfokus pada hubungan antara pesan media yang dikonstruksikan oleh produsen dan interpretasi pesan atau decoding oleh khalayak. Kedua proses ini sangat berhubungan karena menyangkut teks media yang sama. Namun, hasil decoding belum tentu sama dengan apa yang diinginkan oleh produsen pada saat encoding (croteau & hayness, 1997:271). Pengalaman khalayak dengan media masa setiap hari akan bergantung pada likasi sosial, umur, pekerjaan, status pernikahan, ras, jenis kelamin, lingkungan tempat tinggal, latar belakang pendidikan, status sosial ekonomi, hobi, dan sebagainya. Oleh karena itu, walaupun makna dikonstruksikan oleh khalayak, hal-hal tersebut juga membatasi pemaknaan khalayak terhadap teks media massa (croteau & hayness, 1997:269).

Menurut Stuart Hall, ada tiga bentuk pemaknaan atau hubungan antara penulis dengan pembaca dan bagaimana pesan itu dibaca (Eriyanto 2001:94)

  1. Pemaknaan dominan (dominant hegemonic/posisition), yaiut tidak ada perbedaan penafsiran antara penulis dengan pembaca.
  2. Pemaknaan yang dinegosiasikan (negotiated code/position). Posisi ini terjadi ketika kode yang diasampiakan penulis dibaca oleh khalayak dengan kepercayaan dan keyakinannya, tapi ia kompromikan dengan kode yang disediakan oleh penulis.
  3. Pemaknaan oposisi (opposition code/position). Posisi ini tterjadi ketika pembaca menandakan secara berbeda atau secara bersebrangan dengan apa yang disampaikan oleh penulis.

 

II.3. Teori Ideologi dan Ideologi Partai Keadilan Sejahtera

Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide“. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu secara umum dan beberapa arah filosofis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan untama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik.

Ideologi dalam cultural studies (croteau and hoynes, 2000: 157) adalah sebuah kerangka berpikir melalui mana manusia menginterpretasikan, memberikan makna, mengalami dan tinggal di dunia. Menurut John Fiske (Turner 1998: 13, 24-26) ideologi ditanamkan melalui institusi-institusi seperti media, sekolah, dan institusi lainnya.  Ideologi tidak hanya memproduksi budaya namun juga memproduksi kesadaran kita akan diri. Ideologi beroperasi secara implisit untuk kemudian memproduksi realitas. Ideologi ada dalam segala aspek kehidupan dan kita peroleh secara taken for granted. Ideologi terinternalisasi dalam kehidupan kita sehingga kita tidak sadar akan kehadirannya.

Cultural studies mengatakan bahwa teks media tidak hanya mempromosikan ideologi dominan namun juga ideologi yang bertentangan dengan ideologi dominan. Menurut Stuart Hall, (Croteau & Hoynes, 2000 : 165 – 194), media massa merupakan salah satu bentuk ‘cultural leadership’ yang menerapkan praktek hegemoni. Menurutnya media tidak begitu saja merefleksikan realita di dunia namun merepresentasikannya. Kata merepresentasikan mengandung kesan adanya seleksi dalam menampilkan realitas. Jadi media secara aktif membuat makna tentang dunia dan menyampaikannya ke benak publik. Istilah representasi tidak sama dengan istilah realitas, namun hasil proses seleksi yang memungkinkan adanya suatu aspek yang ditonjolkan dan ada aspek lain yang dihilangkan.    Ideologi juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi isi media.[2] Raymond William (dalam eriyanto, 2001) mengklasifikasikan penggunaan ideologi tersebut dalam tiga ranah :

  1. Sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu.
  2. Sebuah sistem kepercayaan yang dibuat –ide palsu atau kesadaran palsu- yang biasa dilawankan dengan pengetahuan ilmiah. Ideologi dalam pengertian ini adalah seperangkat kategori yang dibuat dan kesadaran palsu dimana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk mendominasi kelompok lain.
  3. Proses umum produksi makna dan ide. Ideologi disini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan produksi makna. Bila topik penelitian dihubungkan dengan pemaparan teori di atas maka kepercayaan pembaca koran Kompas terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan mempengaruhi caranya menginterpretasikan, memberikan makna, dan menentukan partisipasi politiknya.

 

II.4. Partai Keadilan Sejahtera

Partai Keadilan Sejahtera (PK-Sejahtera) didirikan di Jakarta pada hari Sabtu, tanggal 20 April tahun 2002 merupakan pelanjut Partai Keadilan (PK) yang didirikan di Jakarta pada hari Senin, tanggal 20 Juli 1998, yang dalam pemilu 1999 lalu meraih 1,4 juta suara (7 kursi DPR, 26 kursi DPRD Propinsi dan 163 kursi DPRD Kota/Kabupaten).

Ideologi PKS adalah Ideologi Islam yang syariatnya merupakan dasar dari terwujudnya pemerintahan suatu negara. Hal ini terlihat dari tujuan PKS yakni terwujudnya cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; serta terwujudnya masyarakat madani yang adil dan sejahtera yang diridlai Allah subhanahu wa ta’ala, dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ideologi ini juga divisualisasikan melalui simbol-simbol PKS yakni Lambang Partai. Selain itu visi dan misi yang diangkat PKS juga menunjukkan bahwa partai politik ini berideologi Islam, yaitu :

VISI

Visi Umum:

“Sebagai partai da’wah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan ummat dan bangsa”

Visi Khusus:

Partai berpengaruh baik secara kekuatan politik, partisipasi, maupun opini dalam           mewujudkan masyarakat Indonesia yang madani.

Visi ini akan mengarahkan Partai Keadilan Sejahtera sebagai :

  1. Partai da’wah yang memperjuangkan Islam sebagai solusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  2. Kekuatan transformatif dari nilai dan ajaran Islam di dalam proses pembangunan kembali umat dan bangsa di berbagai bidang.
  3. Kekuatan yang mempelopori dan menggalang kerjasama dengan berbagai kekuatan yang secita-cita dalam menegakkan nilai dan sistem Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
  4. Akselerator bagi perwujudan masyarakat madani di Indonesia.

 

MISI

  1. Menyebarluaskan da’wah Islam dan mencetak kader-kadernya sebagai anashir taghyir.
  2. Mengembangkan institusi-institusi kemasyarakatan yang Islami di berbagai bidang sebagai markaz taghyir dan pusat solusi.
  3. Membangun opini umum yang Islami dan iklim yang mendukung bagi penerapan ajaran Islam yang solutif dan membawa rahmat.
  4. Membangun kesadaran politik masyarakat, melakukan pembelaan, pelayanan dan pemberdayaan hak-hak kewarganegaraannya.
  5. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar terhadap kekuasaan secara konsisten dan kontinyu dalam bingkai hukum dan etika Islam.
  6. Secara aktif melakukan komunikasi, silaturahim, kerjasama dan ishlah dengan berbagai unsur atau kalangan umat Islam untuk terwujudnya ukhuwah Islamiyah dan wihdatul-ummah, dan dengan berbagai komponen bangsa lainnya untuk memperkokoh kebersamaan dalam merealisir agenda reformasi.
  7. Ikut memberikan kontribusi positif dalam menegakkan keadilan dan menolak kedhaliman khususnya terhadap negeri-negeri muslim yang tertindas.

TAFSIR LAMBANG PARTAI
Arti Lambang Partai

Bentuk lambang partai memiliki arti sebagai berikut :

  1. Kotak persegi empat berarti kesetaraan, keteraturan dan keserasian.
  2. Kotak hitam berarti pusat peribadahan dunia Islam yakni Ka’bah
  3. Bulan sabit berarti lambang kemenangan Islam , dimensi waktu, keindahan, kebahagiaan, pencerahan dan kesinambungan sejarah.
  4. Untaian padi tegak lurus berarti keadilan, ukhuwah, istiqomah, berani dan ketegasan yang mewujudkan kesejahteraan.

Warna lambang partai memiliki arti sebagai berikut :

  1. Putih berarti bersih dan kesucian.
  2. Hitam berarti aspiratif dan kepastian.
  3. Kuning emas berarti kecermelangan, kegembiraan dan kejayaan.

 

Makna Lambang Partai

Makna lambang partai secara keseluruhan adalah menegakkan nilai-nilai keadilan berlandaskan pada kebenaran, persaudaraan dan persatuan menuju kesejahteraan dan kejayaan ummat dan bangsa

 

II.5 PKS dalam koran Kompas

PKS oleh koran Kompas digambarkan sebagai partai politik dengan ideologi Islam. Seperti yang dimuat dalam kolom rubrik Mandat Rakyat hari Selasa, 24 Maret 2009. Sebagai partai Islam, PKS digambarkan sebagai partai yang plural. Dalam kolom tersebut disebutkan bahwa PKS mencerminkan sebuah kekuatan baru yang mencirikan pluralitas Islam perkotaan dan menjadi penghubung antara dikotomi-dikotomi antara Islam tradisional dan Modern.

 

 

II.6 Dosen

Secara umum ”dosen” tergolong sebagai pendidik. Dalam pasal 39 ayat 2 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Dosen adalah sebutan untuk tenaga pendidik pada perguruan tinggi. Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. UU Nomor 14 Tahun 2005 pasal 1 tentang guru dan dosen, dosen diartikan sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

II.7 Asumsi Teoretis

Dalam proses decoding pesan di media, khalayak mempersepsikan teks secara aktif.  Ada banyak faktor yang mempengaruhi proses decoding tersebut – seperti pengalaman, pengetahuan, pandangan politik, konsumsi media lain, dan masih banyak faktor lain. Adanya kemampuan decoding tersebut menyebabkan khalayak bisa dibedakan menjadi dominant, negotiated, atau opposition. Pemaknaan ini akan dipengaruhi oleh pandangan politik khalayak. Khalayak yang beragama Islam dan mendukung partai Islam serta menjadi aktivis PKS akan memaknai ideologi PKS dalam koran Kompas secara preffered sedangkan negotiated dan opposite akan diberikan oleh khalayak dengan pandangan politik liberal.

 

BAB III

METODOLOGI

III.1 Paradigma Penelitian

Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kritis. Paradigma kritis berorentasi terhadap upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap suatu sistem dan menciptakan otonomi. [1] Hal ini terkait dengan definisi paradigma kritis dalam ilmu sosial itu sendiri, yaitu sebagai suatu usaha mengungkap ‘the real structures’ dibalik ilusi yang ditampilkan dunia. Dilakukan dengan tujuan membantu manusia membentuk suatu kesadaran sosial untuk memperbaiki kehidupan manusia.

 

III.2. Jenis Penelitian

Studi khalayak ini merupakan studi kualitatif yang didefinisikan oleh Kirk dan Miller sebagai tradisi penelitian tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan istilahnya.[2] Dengan definisi ini maka informan tidak dikatagorikan ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi memandangnya sebagai bagian dari satu kesatuan.

 

III.3. Sifat Penelitian

Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif, karena berusaha menjelaskan bagaimana ideologi Partai Keadilan Sejahtera, sebagai partai politik yang berazaskan Islam, dalam Koran Kompas dimaknai oleh pembacanya berdasarkan pengalaman dan latar belakang pribadi masing-masing. Hal ini akan memperlihatkan konteks lebih besar yang melatarbelakangi pemaknaan tersebut.

 

III.4. Strategi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Social Constructionism. Metode ini beranjak dari pemikiran bahwa manusia mengembangkan kemampuan interpretasi dan mengkonsumsi realitas.[3] Manusia tidak memiliki akses terhadap realita eksternal. Semua pemahaman yang dimiliki bersifat kontekstual, interpersonal, dan terbatas karena merupakan konstruksi dari pembuat realita, yang dalam hal ini adalah media.      Dengan menggunakan metode ini peneliti ingin melihat dan memaparkan bagaimana pembaca Koran Kompas memaknai ideologi Partai Keadilan Sejahtera yang ditampilkan dan bagiamana posisi pemaknaan tersebut – apakah dominant, negotiated, atau resistant/opposite – ikut memaknai realitas di sekeliling mereka. Hasil pemaparan ini kemudian akan digunakan untuk melihat bagaimana pola pemaknaan informan berperan dalam pembentukan nilai-nilai politik yang bisa mempengaruhi partisipasi politik informan.

III.4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh melalui empat cara, yakni : wawancara mendalam, focus group discussion, observasi, dan studi dokumen. Wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang akan dilakukan oleh peneliti. Dengan wawancara mendalam peneliti akan mendapat keterangan dan data yang lebih rinci berdasarkan pengalaman, pendapat, dan pengetahuan informan.

Sedangkan observasi memungkinkan peneliti memperoleh deskrpsi yang tidak diberikan oleh informan seperti kondisi lingkungan, kegiatan sehari-hari, lingkungan, dan organisasi atau tempat kerja informan. Wawancara mendalam dilakukan berdasarkan panduan wawancara yang telah disiapkan sebelumnya tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pengembangan ketika di lapangan. Pada wawancara ini peneliti ingin melihat pemaknaan informan tentang citra partai politik berazaskan Islam yang dibentuk oleh informan dan bagiamana sikap mereka terhadap partai politik tersebut. Pemaparan tersebut juga melibatkan latar belakang serta media yang dikonsumsi oleh informan.

 

III.5. Pemilihan Informan

Dalam penelitian ini, meskipun yang diteliti adalah gambaran tentang partai politik yang berazaskan Islam, informan yang dipilih bukan semata-mata yang beragama Islam. Informan yang dipilih oleh peneliti adalah dosen Universitas Indonesia. Usia informan yang dipilih adalah antara 35 – 50 tahun.

Informan dipilih secara purposif, yaitu dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Hukum.

Informan dipilih secara Criterion, dimana terdapat pengkatagorian kelompok dosen UI yang pandangan politiknya pro PKS, pro nasionalis, dan yang memilih untuk Golput. Informan merupakan dosen pembaca koran Kompas, baik yang berlangganan maupun tidak.

 

III.6. Kelemahan Penelitian

  1. Pemilihan informan yakni dosen menyebabkan tidak berkembangnya ”kedekatan antara informan dan peneliti sehingga ketika wawancara mendalam dilakukan peneliti kurang bisa menggali lebih dalam lagi.
  2. Peneliti mengalami keterbatasan dalam menurunkan konsep-konsep dari teori ideologi dan ideologi Islam. Untuk penelitian yang mengangkat tema politik peneliti harus mampu menguasai teori-teori dan konsep politik terkait.
  3. Dalam waktu yang relatif singkat dengan informan dosen, peneliti mengalami kesulitan untuk bertemu informan dengan alasan kesibukan informan.

 

BAB IV

ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA

Seperti biasa, bagi pembaca yang ingin mengetahui hasil penelitian ini, bisa kirim email ke om
_rousta@yahoo.com

dengan menyertakan nama, no.telp/HP, institusi / lembaga, pekerjaan. terimakasih ^^


[1] Dedy N. Hidayat, Modul Paradigma dan Metodlogi Penilitian Sosial Empirik-Klasik, 2003, Hal 3.

[2] Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000, Hal. 3

[3] Michael Quinn Patton, Qualitative Research & Evaluation Methods, 3rd ed., California : SAGE Publication, 2002, Hal. 96

 


[1] Barran&Davis, Mass Communication Theory, California: Wadsworth Inc., 1995, Hal. 30.

[2] J. Shoemaker, Pamela dan Stephen D. Reese.1996.Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. Terdapat 5 faktor yang mempengaruhi isi media yakni : faktor individual, rutinitas media, organisasi, ekstra media, dan ideologi.

 

 


[1] www.cetro.or.id/pemilu2004/suaradprri2004.pdf. diunduh pada tanggal 3 Maret 2009

[2] Nimmo, Dan, Komunikasi Politik ; Komunikator, Pesan, dan Media. 1999. Hal 236-237.

About these ads
Categories: Ilmu
  1. Sadat ar Rayyan
    November 7, 2009 at 6:46 am

    haduh haduh panjang beud :mrgreen: *save dulu ah* bacanya ntar yang penting pertamax gan :)

    gimana hasil penelitian ini rous?

  2. mencarimaknahidup
    November 8, 2009 at 3:05 am

    ntar dishare lewat email aja ya pakde hehehe :D

  3. November 8, 2009 at 12:19 pm

    buset dah

  4. Ummu Dzulqarnain
    November 8, 2009 at 2:49 pm

    Waduh, panjang amat… Intinya apa ya sayang?
    Hem… dengar-dengar ideologi PKS saat ini sudah tidak berazaskan Islam seutuhnya…Yah itu juga denger-denger dari kata orang… [Hanya tambahan saja, semoga membantu dan jangan sampe membuat adekku semakin bingung, hehe]

  5. mencarimaknahidup
    November 8, 2009 at 9:56 pm

    @sagung : hehehe
    @ummu dzulqarnain : penelitian ini sebenarnya bermaksud melihat bagaimana masyarakat memaknai apa ideologi PKS yang ditampilkan di media. Ada sebagian responden yang mengiyakan bahwa ideologi PKS adalah ideologi Islam tapi ada juga responden yang bilang dengan tegas bahwa ideologi PKS BUKAN ideologi ISLAM.
    nah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang setuju ideologi PKS adalah ideologi Islam ternyata mereka-mereka yang punya latar belakang politik kampus sekaligus berasal dari organisasi kerohanian Islam selama di kampus atau berasal dari liqo’ dan semacamnya. sedangkan yang tidak setuju adalah mereka-mereka yang berpandangan politik demokratis – nasionalis. Haha, jadi nggak semua masyarakat setuju tuh kalo ideologi yang diusung PKS adalah ideologi Islam.
    Dan untungnya, partai ini kemudian mendeklarasikan sebagai partai “umum” nasionalis. Pendidikan politik yang salah kan bisa menjerumuskan masyarakat pada pilihan yang salah. (kata teori)

  6. November 10, 2009 at 6:07 am

    duh… jangan berat2 deh, roust..
    saya lagi pengen mikir yang ringan2 saja.. seperti seminar&skripsi… :p

  7. bagus tejo pramono
    November 11, 2009 at 1:29 am

    panjang amat…..
    bole saya dikirimi filenya. :)

  8. November 12, 2009 at 7:07 am

    assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh,
    aw aw aw, ka lucita nih anak celdas…
    aku jadi maluu >,<

  9. mencarimaknahidup
    November 14, 2009 at 7:02 am

    @re_here : itu lebih berat kayaknya -____-‘
    @mas bagus : oooo boleh boleh
    @awis : wa’alaykumssalam warohmatullah wabarokatuh, kamu juga celdas dek awis \^^/

  10. fefadonks
    November 16, 2009 at 5:19 am

    @re_here : emang ngerjain?perasaan blom nulis ap2 tuh (tengak tengok)
    @roust : bisa diceritakan dengan lebih ringkas? (_ _”) pjg beut
    @ akh bagus : tlg diforward yak filenya :D

  11. mencarimaknahidup
    November 19, 2009 at 7:12 am

    @fefadonks : apakah ini akhi feri fajri???

  12. November 22, 2009 at 6:02 pm

    Boleh saya dikirimi juga filenya mbak rous? :) (ngarep banget mode ON)
    Udah tau sapa saya kan? Klo belum coba tanya aja kang Herr :mrgreen:

  13. fefadonks
    November 23, 2009 at 3:49 am

    iyah mas rous

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: