Elegi #season 2
Malam hari, hampir di penghujung tahun masehi 2010. Aku dan suamiku jalan-jalan melupakan penat siang hari sekedar berjalan bersama di malam hari. Lalu kami mampir di pusat perbelanjaan untuk membeli sedikit keperluan sehari-hari.
Hari mulai malam, dan kami pulang bersamaan dengan hampir ditutupnya semua kios di pusat perbelanjaan itu. lalu kami pun keluar kembali menghirup udara malam di jalanan depok yang sudah berpolusi. Perhatian kami kemudian tertuju pada sesosok anak kecil, disampingnya ada sebuah karung putih besar, dari situ kami berkesimpulan bahwa ia adalah anak pemulung. Dia tidak peduli dengan riuhnya kendaraan lalu lalang atau gemerlapnya manusia-manusia yang memenuhi jalanan dengan beragam tas belanjaan. Perhatiannya hanya tertuju pada satu lampu, ya hanya satu. Tidak peduli yang lain, sesekali menunduk, atau mendongak menatap langit.
Batinku tersentuh, sedang apa anak sekecil itu (usia SD) masih di luar malam-malam begini. Bukankah jalanan di malam hari bukan tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Lalu kami berinisiatif memberinya sesuatu, bukan uang yang jelas. Sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam yang tak seberapa aku bertanya padanya.
“adek lagi ngapain di sini malam-malam?” Read more…















Recent Comments