Archive

Archive for the ‘Opini’ Category

Soekarno sebagai Manoesia (tulisan lama)

Buku ini merupakan biografi singkat mengenai sosok Soekarno, presiden Republik Indonesia yang pertama.Buku setebal 82 halaman ini menggambarkan tokoh Soekarno berbeda dengan buku-buku biografi kebanyakan. Buku aslinya, yang ditulis oleh Im Yang Tjoe ini diterbitkan pada tahun 1933. Jauh sebelum Soekarno dilantik sebagai presiden Republik Indonesia. Hal ini menandakan bahwa sosok Soekarno telah dikenal selama masa perjuangannya dan telah menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang. Siapakah Im Yang Tjoe? Pertanyaan itulah yang sebenarnya belum banyak mendapat penjelasan. Im Yang Tjoe hanya dikenal sebagai wartawan pada masa pergerakan melawan kolonial, berdarah Tionghoa, yang telah lama kenal Soekarno dan mengamati sepak terjang perjuangannya. Tidak banyak buku mengisahkan Im Yang Tjoe atau menyertakan tulisan-tulisannya sebagai sumber penulisan biografi tentang Soekarno. Read more…

Categories: Opini

IPS dan IPA pinteran siapa?

September 11, 2009 5 comments

Assalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Maaf judulnya agak kontroversial, sengaja hahaha :D images

Hem mari kawan kita berflash back, ke jaman SMA tepatnya ketika kelas 2. Yup, saat penjurusan. Sudah menjadi fenomena biasa bahwa kegiatan penjurusan ini akan menimbulkan sensitifisme walaupun tak terlalu terlihat ekstrim. Masalahnya adalah pada proses penjurusannya yang dilakukan melalui seleksi nilai dan prestasi. Mereka yang bernilai ’lebih’ dari standart tertentu akan masuk IPA dan yang lain masuk IPS. Otomotis sistem ini akan menggolongkan kedua jurusan tersebut dari ukuran nilai, angka.

Mari, kemudian kita kembali ke masa ini. Ya, masa dimana kita sudah kuliah atau bekerja dan sudah menekuni studi ilmu masing-masing baik sosial maupun eksak. Pasti skema kita dalam melihat dua jurusan itu berubah, terutama itulah yang saya alami.
Baik, jurusan sosial, saya ambil jurusan komunikasi. Well, pasti banyak yang berpikir ”kuliah macam apa komunikasi itu?” entah dengan nada penasaran atau cibiran, no offense. Read more…

Categories: Opini

Kayak Surat Sahabat Jadinya

August 15, 2009 2 comments

Assalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh

terinspirasi dari note seorang teman baik saya… saya jadi ingin menuliskan kisah tentang dua orang terhebat dalam hidup saya, yap mbah Kung dan Mbah Uti..
Beberapa orang memilikii hubungan yang tidak begiu dekat dengan kakek neneknya atau bahkan tidak sempat mengenal kakek dan neneknya, tetapi sebagian orang sangat dekat hubungannya, dan saya menjadi salah satunya, alhamdulillah…

Mbah Kung saya, bernama Sukiran Ali Sumitro, saat ini berusia 79 tahun, dan alhamdulillah masih sehat… mbah Kung saya orangnya suka mendongeng… dari kecil saya sudah tinggal bersama mbah Kung dan mbah Uti dan bisa dibilang beliau berdua sudah seperti ayah dan ibu buat saya. Semasa kecil saya tidur selalu dikelonin sama mbah Kung sedangkan adik saya sama mbah Uti, sebelum tidur saya biasa didongengin sama mbah Kung… udah lupa ceritanya tentang apa yang jelas dalam ceritanya beliau menempatkan harapan dan doanya untuk saya kelak bisa jadi ini itu… Read more…

Categories: Opini

Apa yang Kamu Cari?

caritiba-tiba teringat perkataan Prof. Ibnu di kelas terakhir etika dan filsafat komunikasi “mulailah mempertanyakan untuk apa kamu diciptakan di dunia?”

dasar filsafat, mempertanyakan sesuatu yang pasti terjadi kadangkala, hanya saja kemudian kembali merenung…
hem,,, di antara r
utinitas dunia setiap hari sering kali kita lupa memang dengan tugas kita di dunia. Tugas yang paling hakiki hanya untuk Dia yang menciptakan dan mengirimkan kita ke dunia.
Suatu proses yang unik kadang-kadang karena bagi setiap orang memahami kehadiran DIA ini akan sangat berbeda.
Esensinya, cara pendekatannya, metodologinya… walaupun acapkali objektifnya sama.
Dalam sebuah penelitian sistematis perbedaan ini jelas wajar, lihat kasusnya apa maka teori dan metode yang digunakan akan kembali berbeda.
Tetapi untuk masalah hubungan hamba dengan Tuhannya mungkinkah harusnya berbeda?
Yang saya yakini sih tidak, saya bukannya anti keberagaman, bukan,,, hanya sekedar bertanya mengapa bisa? Read more…

Categories: Opini

Jangan Cuma Nyalahin Televisi

April 12, 2009 4 comments

TVSebuah diskusi menarik menurut saya ketika kelas “Etika dan Filsafat Komunikasi”. Sebuah perdabatan tentang kualitas tayangan televisi akibat dari sistem kapitalis liberal yang diterapkan di Industri termasuk media. Dalam diskusi tersebut mahasiswa disimulasikan sebagai publik, industri, dan pemerintah. Karena peran ketiganya memang sangat mempengaruhi kualitas tayangan media yang ada.
Tentu saja semua pihak meletakkan tanggungjawab tersebut kepada industri. Industri dilihat sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas “kotor”nya tayangan televisi saat ini.
Well, memang tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa tayangan televisi memang tidak mendidik dan cenderung memuat tayangan-tayangan yang merugikan dan berpotensi berbahaya (secara kognitif). Tapi hal ini tidak bisa terlepas dari nature industri televisi saat ini.

Untuk ukuran negara baru yang menerapkan demokrasi, Indonesia sangat luar biasa dalam menerapkan kebebasan media. Hal itu terlihat dari adanya 10 stasiun televisi terestrial yang semuanya komersial. Butuh upaya yang sangat keras bahkan hampir tidak mungkin untuk “memaksa” media komersial bertanggungjawab secara sosial kepada masyarakat dengan menyajikan tayangan-tayangan bermutu. Pertanyaannya akan kembali pada tayangan yang bermutu menurut siapa? Read more…

Categories: Opini

Hanya Semacam Analogi

March 26, 2009 3 comments

Tiba-tiba merenung ketika iklan dan pemberitaan tentang partai politik mulai marak di layar kaca. Berbagai janji dan buaian terlontar dari mulut para elit atas nama kepentingan rakyat. Kemudian, sebuah pemikiran menggelitik syaraf otak dengan rangkaian pertanyaan yang jawabannya bisa beragam. Benar-benar adilkah demokrasi untuk rakyat atau bagaimana sebenarnya demokrasi itu? bahasan yang basi bisa dibilang, tapi hanya berupaya kembali mengingatkan. Analogi atau tepatnya saya mengajak anda berasumsi. Sistem pemilu kita yang melandaskan keputusan pada suara terbanyak. Keputusan yang menyangkut harkat hidup orang banyak bahkan sampai ke aspek-aspek yang mikro. Oke, langsung saya gambarkan. Misalnya, dalam pemilu nanti 50% penduduk Indonesia saja memutuskan Golput. Maka akan tersisa 50% suara untuk sekian banyak partai (ada berapa partai sekarang?) Katakanlah Partai X menang dengan suara terbanyak 20%. Ini berartio 20% dari 50% orang yang ikut nyontreng di pemilu kan? Read more…

Categories: Opini

AYAT SUCI DALAM KROMOSOM MANUSIA.

March 26, 2009 4 comments

dnaApa teman-teman mengenal Dr. Ahmad Khan Dia adalah lulusan Summa Cumlaude dari Duke University. (Dia juga yang mempublikasikan penelitiannya ttg Kode Babi Pada Makanan Berkemas)

Dy adalah Seorang ilmuwan yang penemuannya sehebat Gallileo, Newton dan Einstein yang berhasil membuktikan tentang keterkaitan antara Alquran dan rancang struktur tubuh manusia. Walaupun ia ilmuwan muda yang tengah menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan untuk penelitian genetiknya.

Ruang kerjanya yang dihiasi kaligrafi, kertas-kertas penghargaan, tumpukan buku-buku kumal dan kitab suci yang sering dibukanya, menunjukkan bahwa ia merupakan kombinasi dari ilmuwan dan pecinta kitab suci.
Salah satu penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan adalah ditemukannya informasi lain selain konstruksi Polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitiannya adalah Surat Al-Fushshilat ayat 53 yang juga dikuatkan dengan hasil-hasil penemuan Profesor Keith Moore ahli embriologi dari Kanada. Penemuannya tersebut diilhami ketika Khatib pada waktu salat Jumat membacakan salah satu ayat yang ada kaitannya dengan ilmu biologi. Arti ayat tersebut : Read more…

Categories: Opini

Let me think

December 13, 2008 5 comments

Terkadang banyak pikiran yang menggelayut…

Jadi inget waktu ikut seminarnya bang Salim A. Fillah
Sesuatu yang sangat menohok dan jadi PR!!!
Segala hal tentag mengasuh dan mendidik anak
Subhanallah….
nggak gampang lho sodara

Waktu itu beliau ngasih contoh, ketika anak jatuh, dabrus…
terus nangis…apa yang akan kita lakukan?
bilang : “nggak sakit kok nak..nggak nangis lo ya..”
kurang lebih begitu, mungkin maksudnya biar si anak tabah nggak cengeng.

tapi ternyata apa yang beliau katakan membuat saya “iya juga ya”
begini :
dengan kata-kata itu terpikirkah kalian suatu saat nanti ketika kita udah tua, kena asam urat, terus ngeluh sakit, kita akan diperlakukan sama. si anak akan bilang “alah Bu…gitu aja ngeluh, masa sakit?”
masyaAllah yak…mungkin bukan salah dia, bisa jadi salah kita karena anak mengembalikan apa yag kita ajarkan.
“waktu kecil, waktu gw jatuh, jelas aja sakit, makanya gw nangis…e…sama nyokap malah dibilang kagak sakit, nggak boleh nangis…Macam amana pula?!”

Haha lebay, tapi kira2 begitu…sayangnya beliau nggak menjelaskan bagaimana seharusnya. Jadi itu yang sedang saya cari-cari sekarang hihi.

Selanjutnya yang menjadi pemikiran lagi adalah…
Banyak orang menaruh banyak sekali ekspektasi untuk anak mereka. Kelak jadi agen perubahan, membawa dunia ini kembali ke kejayaan Islam bla..bla..

Kemudian saya berpikir tentang sebuah ekspektasi. Banyak impian yang kita punya saat ini, tetapi kenapa nggak diwujudkan? harus menunggu orang lain mewujudkannya?

perubahan…
hal itu yang banyak didengungkan, diharapkan…tetapi kebanyakan orag menunggu,,,menunggu orang lain yang melakukannya. Ketika ada orang lain yang bergerak mereka diam, menonton, ketika orang lain gagal, mereka menyembunyikan wajah, tak mau pula disalahkan. Padahal di laur sana orang lain itu dipenjara, dirampas haknya, atau banyak bentuk hukuman lainnya.
Tetapi ketika orang lain berhasil mereka akan bilang “pikiran mereka sama dengan saya, apa saya bilang…, i belong to them…” hah…
kenapa bukan kita yang jadi “orang lain itu”

hem…sama kayak waktu Obama jadi presiden. Ekspektasinya pada berlebihan. He’s an American. kenapa banyak orang berharap dia akan melakukan hal yang luar biasa buat Indonesia. Hanya karena pernah tinggal di Indonesia? Berlebihan.

Kenapa bukan kita aja yang bikin Indonesia lebih baik. Tempat kita makan, kerja, berkeluarga, membesarkan anak, apa kita tega membiarkan ia dalam keadaan buruk terus menerus.

semoga saya yang menulis ini bisa melakukan sesuatu, meski bukan sesuatu yang besar…

Categories: Opini

Perbedaan

You know?

Beberapa film mengajarkanku tentang banyak hal

Itulah yang aku suka dari film

Yeah, walaupun harus tetap meletakkan nilai kritis untuk menerima setiap pesannya.

Kali ini hanya film sederhana,

Film remaja bahkan…

Tapi entah mengapa Hollywood mampu mengemas pesannya dengan sangat menarik

Pendekatan emosional kurasa.

Kali ini tentang perbedaan..

Well, kita, manusia diciptakan dengan modal, bekal, bawaan alamiah yang berbeda.

Everyone is different

Everybody can’t deny it, right?

Perbedaan itu ada di sekitar kita, setiap jengkal, setiap hari

Tapi apa kita menyadarinya? That’s the point

Sudah banyak kejadian, peristiwa sejarah dari hal yang paling menyeramkan sampai yang terhebat tentang perbedaan.

Perbedaan ras, gender, agama, ideologi, dan banyak hal lainnya.

Masalahnya adalah ketika setiap diri kita, atau orang-orang segolongan kita menganggap bahwa perbedaan itu tidah sah!

Harus ada satu pihak yang berkuasa dan itu adalah kita sendiri

Mungkin sekarang bukan kejadian ekstrim yang ada

Tapi percayalah, pikiran itu ada di setiap kognisi manusia, sadar tak sadar

Well, what white skin think about black or coloured? It was. No!! it still happen in this day in the postcolonial by the way.

Haha, Ironic right? Betapa menjadi sebuah peristiwa menghebohkan ketika Obama menjadi presiden Amerika.

Kenapa? Karena dia Hitam? What’s the problem with that?

He’s a human being, same like us.

A man, a husband, a father, and the ordinary people with the great hope.

Kenapa orang-orang selalu membuatnya menjadi masalah yang sangat besar?

Setiap orang dari kita is the winner!

Itulah mengapa Allah memberi hak bagi setiap umatnya dengan adil, sama.

Mengapa manusia membuatnya berbeda?

Mungkin sebagian orang berkata bahwa ini berkaitan dengan apa yang dianggap benar.

Penerimaan, pemaknaan tentang kebenaran bagi tiap orang pun bahkan berbeda-beda.

Banyak faktor, dan sangat kompleks.

Bukan masalah jika ingin orang lain mengakui kebenaranmu atau mengikuti apa yang kau anggap benar.

But it’s about the way.

Some people think that anyone outside their truth is enemy, dirty, mud blood, or the ‘think’ that must be thrown away.

Let’s think about peace.

Not only have a meaning as a word, but it’s a way to respect differences, to accept another right.

To realize that we all are human being. ONLY human being. Not an angel, you’re not a God, how can you think that you and your thought is the best and right think ever??

If you can answer it you’re such an idiot. Ups, sorry…

Peace!!!

Unity in Differences

Unity in Differences

Heal the World, make it batter place, for you and for me and the entire human race, there are people dying if you care enough for the living, make it better place for you and for me

Categories: Opini
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.