Home > Opini > Hanya Semacam Analogi

Hanya Semacam Analogi

Tiba-tiba merenung ketika iklan dan pemberitaan tentang partai politik mulai marak di layar kaca. Berbagai janji dan buaian terlontar dari mulut para elit atas nama kepentingan rakyat. Kemudian, sebuah pemikiran menggelitik syaraf otak dengan rangkaian pertanyaan yang jawabannya bisa beragam. Benar-benar adilkah demokrasi untuk rakyat atau bagaimana sebenarnya demokrasi itu? bahasan yang basi bisa dibilang, tapi hanya berupaya kembali mengingatkan. Analogi atau tepatnya saya mengajak anda berasumsi. Sistem pemilu kita yang melandaskan keputusan pada suara terbanyak. Keputusan yang menyangkut harkat hidup orang banyak bahkan sampai ke aspek-aspek yang mikro. Oke, langsung saya gambarkan. Misalnya, dalam pemilu nanti 50% penduduk Indonesia saja memutuskan Golput. Maka akan tersisa 50% suara untuk sekian banyak partai (ada berapa partai sekarang?) Katakanlah Partai X menang dengan suara terbanyak 20%. Ini berartio 20% dari 50% orang yang ikut nyontreng di pemilu kan?

Nah,,, Masalahnya adalah parpol pemenang pemilu akan memperoleh kursi di DPR yang nantinya merekalah yang akan merumuskan undang-undang. Sebuah peraturan legal yang mengharuskan kita, warga negara, untuk mematuhinya. Mereka-mereka ini dipilih atas nama rakyat, bisakah 20% dari 50% mewakili suara 100% suara rakyat?? Masalah tidak hanya sampai di situ. Suatu program berita menyebut bahwa ada seorang Caleg yang terkena kasus pidana dan masih menjalani proses hukum. Seperti inikah seorang calon legislator yang nantinya membuat aturan untuk kita??? Sebegitu mudahnya kah orang menjadi Caleg? Atau sudah seburuk itukah parpol yang emnempatkan orang-orang populer menjadi caleg bukan orang-orang yang mampu? Masalah inilah yang kemudian sebenarnya memperlihatkan kapasistas parpol kita, yang masih jauh dari istilah “pintar” apalagi membuat rakyat jadi pintar. Hal itu terlihat dari proses dan kampanye yang mereka lakukan. Saya pribadi bukan melihat hal itu sebagai sebuah pendidikan politik bagi masyarakat. Buktinya masih banyak orang yang nggak ngerti politik tapi ikut pemilu karena dikasih duit, sembako gratis, atau karena capresnya Ganteng… ya Allah… Nah, seharusnya parpol yang juga mempunyai fungsi sebagai agen pendidikan politik melakukan kampanye politik yang dilaksanakan dalam jangka panjang bukan hanya kampanye pemilu yang cuma sekian bulan. Hanya untuk menggalang suara. Bukan membuat rakyat dengan sukarela untuk tidak Golput. Dengan kondisi seperti ini sudah wajar kalau Golput menjadi pilihan paling ‘pintar’. Cukupkah dengan menyewa massa, konser dangdut, dan roadshow ketika pemilu untuk membuat rakyat memberikan suaranya untuk salah satu partai? Saya rasa, rakyat tak sebodoh itu. Tapi sayangnya parpol kita, elit politik kita masih senang membodohi rakyat. Tidakkah teman-teman sadari pesan kampanye mereka dangkal, pesannya homogen, nggak ada yang beda, semuanya abstrak dan absurd? Tulisan ini saya buat atas dasar rasional. Kalau dikaji pake ilmu agama bakal lebih panjang penjelasannya, dan saya merasa belum punya kapabilitas dalam hal tersebut. saya hanya ingin mengajak anda bernalar secara logis saja… Ilmu saya terbatas… Mohon koreksi jika salah…

Categories: Opini
  1. March 28, 2009 at 3:35 am

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

  2. Prasetyo Muchlas
    April 3, 2009 at 3:21 pm

    Baik kita kaji dengan logika..

    <?php

    $suara_terbanyak=”kebanyakan manusia itu berada dalam kesesatan”

    $demokrasi = “$Suara_terbanyak”

    {

    if ($demokrasi==”$suara_terbanyak”)
    {
    echo “maka orang-orang tidak ber’ilmu memilih berdasarkan apa yang mereka anggap benar!”;
    else
    echo “demokrasi bukan bagian dari Islam!”;

    }
    ?>

    ———————-

    ^^

  3. mencarimaknahidup
    April 12, 2009 at 1:28 pm

    @ Prasetyo Muchlas : setuju,,,, kalo orang2 “bebel” dikasih ayatnya,,, ajak juga berpikir pake logika…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: