Home > Ilmu > Bagaimana dengan Imsak dan waktu Berbuka?

Bagaimana dengan Imsak dan waktu Berbuka?

Masalah Waktu Puasa

Assalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Tulisan ini terkait dengan banyaknya kebimbangan dan pertanyaan seputar waktu puasa. Atau biasa kita kenal dengan batasan Imsak.
Saudaraku yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah, dengan segala RahmatNya telah memberikan batasan waktu bagi orang yang berpuasa, awal dan akhir waktunya. Yaitu, dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

1. Benang Putih dan Benang Hitam
Dari ayat :
“… Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar… ” (QS. Al-Baqarah : 187)

Stelah turun ayat tersebut, para sahabat Nabi sholallahu alaihi wassalam sengaja mengambil tali hitam dan tali putih1 dan meletakannya di bawah bantal mereka atau salah seorang dari mereka mengikatkannya di kakinya, dan mereka masih tetap bebas makan dan minum hingga kedua tali tersebut terlihat jelas oleh mereka.

Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahuanhu, dia menuturkan : “Ketika turun firman Allah, yakni saat aku memeluk Islam (Fat-hul Baari IV/132-133) : Hingga terang bagimu benang putih dari benag hitam, yaitu fajat, aku mengambil tali hitam dan juga putih , lalu meletakkannya di bawah bantalku. Kemudian, aku melihatnya pada malam hari dan keduanya tidak tampak olehku. Selanjutnya aku berangkat menemui Rosulullah Sholallahu alaihi wassalam dan menceritakan kejadian itu. Maka beliau bersabda : “Yang dimaksud oleh ayat ini adalah hitamnya malam dan putihnya siang.”2

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahuanhu dia menuturkan : “Ketika firman Allah ini turun : Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, jika ada seseorang yang hendak berpuasa maka salah seorang di antara mereka mengikatkan tali pada kedua kakinya, yakni benang berwarna putih dan benang berwarna hitam. Dia masih bebas makan dan minum sampai tampak jelas olehnya kedua benang tersebut. Maka setelah itu, Allah menurunkan firmanNya : “Yaitu fajar”. Akhirnya mereka pun mengetahui bahwa yang dimaksudkan adalah malam dan siang.3

Setelah adanya penjelasan Al Qur’an dan keterangan Rabbani tersebut, Rosulullah sholallahu alaihi wassalam menjelaskan maksud perbedaan antara benang hitam dan putih ini kepada para Sahabat sehingga tidak meninggalkan ruang keraguan dan ketidaktahuan.

2. Dua Macam Fajar
Di antara hokum-hukum yang telah dijelaskan oleh Rosulullah sholallahu alaihi wassalam secara rinci, terdapat keterangan yang menjelaskan bahwa fajar ada dua, yaitu :
a.Fajar Kadzib : yaitu saat ketika shalat Shubuh belum tidak sah untuk dilakukan dan tidak pula diharamkan bagi orang yang akan berpuasa untuk makan dan minum.
b.Fajar Shadiq : yaitu saat ketika orang yang berpuasa diharamkan untuk makan dan minum, dan dihalalkan untuk mengerjakan sholat Shubuh.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahuanhu, dia berkata bahwa Rosulullah sholallahu alaihi wassalam bersabda :

“Fajar itu ada dua : adapun fajar yang pertama, makanan (sahur) tidak diharamkan dan tidak pula diperbolehkan mengerjakan shalat. Sedangkan fajar yang kedua, makanan (sahur) diharamkan dan dibolehkan mengerjakan sholat Shubuh.4

Ketahuilah saudaraku bahwa :
a.Fajar kadzib : berwarna putih panjang dan menjulur ke atas seperti ekor serigala.
b.Fajar shadiq : berwarna merah yang emmanjang dan melintang di atas puncak gunung, yang tersebar di jalanan, gang-gang, dan rumah-rumah. Inilah yang berkaitan dengan hukum-hukum puasa dan sholat.

Dari Samurah Radhiallahuanhu dia berkata bahwa Rosulullah solallahualaihi wassalam bersabda :

”Janganlah kalian tertipu oleh adzan Bilal dan warna putih ini untuk waktu Shubuh sampai warna putih itu menyebar.”5

Dari Thalq bin’Ali, Nabi Solallahu alaihi wassalam bersabda :

”Makan dan minumlah serta janganlah kalian tertipu oleh pancaran putih yang naik. Makan dan minumlah hingga tampak oleh kalian warna merah.”6

Ketahuilah bahwa sifat-sifat fajar shadiq adalah yang sesuai dengan ayat yang mulia ini : ”sehingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” Jika cahaya fajar telah tampak di ufuk dan puncak gunung sehingga terlihat seakan – akan ia sebagai benang putih, lalu tampak pula di bagian atasnya benang warna hitam, yaitu sisa-sisa malam yang akan beranjak pergi.
Jika hal tersebut telah benar-benar tampak, maka berhentilah makan dan minum serta bercampur. Jika tangan anda masih memegang gelas berisi air atau minuman, maka minumlah dengan tenang dan nikmat karena hal ini sebagai keringanan yang sangat berharga dari Rabb yang Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang mengerjakan puasa sekalipun anda telah mendengar adzan berkumandang.

Rasulullah sholallahu alaihi wassalam bersabda :

”Jika salah seorang di antara kalian mendengar suara adzan sementara bejana masih di tangannya (sedang meneguk air minum), maka janganlah dia meletakannya hingga keperluannya pada bejana tersebut terpenuhi.”7

Yang dimaksud dengan an-nida’ (adzan) adalah adzan Shubuh kedua saat fajar shadiq tiba, berdasarkan tambahan yang diriwayatkan oleh Ahmad (II/510) dan Ibnu Jarir ath-Thabari (II/102) dan lain-lain setelah hadist : ”dan muadzdzin mengumandangkan adzan jika sudah terbit fajar.”8

Makna ini diperkuat dengan riwayat Abu Umamah radhiallahuanhu, dia menuturkan : ”Pernah Iqamah dikumandangkan sementara bejana masih di tangan ’Umar. Dia bertanya : ’Apakah aku boleh meminumnya, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab : ’Boleh’. Maka ’Umar pun meminumnya.”9

Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa pengadaan istilah Imsak dari makan sebelum terbit fajar shadiq dengan alasan kehati-hatian adalah bid’ah, yang diada-adakan. Hanya Allah yang patut menjadi tempat meminta pertolongan.

3. Meneruskan puasa sampai malam hari
Jika malam telah datang dari sebelah timur dan siang berlalu dari sebelah barat serta matahari pun telah terbenam, maka ketika itu dipersilahkan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka.
Dari ’Umar radhiallahuanhu dia berkata bahwa Rosulullah solallahu alaihi wassalam bersabda : ”Jika malam telah datang dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun telah terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka.”10

Keadaan ini berlangsung tepat setelah bulatan matahari terbenam sekalipun sinarnya masih tampak. Salah satu perunjuk Nabi solallahu alaihi wassalam jika beliau tengah berpuasa adalah beliau memerintahkan seseorang untuk memantau (melihat) sesuatu (matahari). Kemudian jika orang itu mengatakan : ”Matahari telah terbenam,” maka beliau pun langsung berbuka.11

Sebagian orang ada yang mengira bahwa malam itu tidak terealisasi langsung setelah matahari terbenam, tetapi masuk setelah tersebarnya kegelapan, baik di bagian timur maupun di barat. Hal tersebut pernah terjadi pada sebagian sahabat Nabi Solallahu alaihi wassalam. Kemudian beliau memberikan pemahaman bahwa waktu malam itu cukup pada permulaan gelap dari arah timur langsung setelah bulatan matahari tenggelam.

Dari ’Abdullah bin Abi Aufa radhiallahuanhu, dia bercerita :”Kami pernah bersama Rasulullah sholallahu alaihi wassalam dalam suatu perjalanan sementara waktu itu beliau dalam keadaan berpuasa (pada bulan Ramadhan). Pada saat matahari terbenam, beliau berkata kepada beberapa orang : ”Wahai fulan (dalam sebuah riwayat Abu Dawud : ’Hai Bilal’), berdiri dan siapkan minuman dan makanan untuk kami.’ Dia berkata : ’Wahai rosulullah, seandainya engkau menunggu sampai sore hari,’ (dalam riwayat al-Bukhari disebutkan : ’Seandainya engkau menunggu sampai sore tiba. Dalam riwayat yang lain disebutkan :’Matahari’). Beliau berkata : ’Turun dan siapkanlah makanan dan minuman untuk kami.’ Dia berkata : ”Sesungguhnya ini masih siang.” Beliau berkata : Turun dan siapkanlah makana dan minuman untuk kami.’ Maka dia pun turun dan menyiapkan minuman untuk mereka. Maka Nabi solallahu alaihi wassalam pun minum. ( Beliau berkata : ’Seandainya ada salah seorang yang berusaha melihat matahari di atas untanya, niscaya akan melihatnya’). Kemudian beliau melempar (Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan : ’Beliau memberi isyarat dengan tangannya’). (Dalam riwayat Syaikhani disbutkan : ’Beliau memberi isyarat dengan jarinya ke arah timur’). Selanjutnya beliau bersabda : ’Jika engkau melihat malam telah tiba dari sini, berarti orang yang berpuasa sudah boleh berbuka.”12

Wallahu’alam bishawab
Barakallahulakum
Wassalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Disarikan dari BAB Waktu Puasa dalam kitab ”Meneladani Shaum Rasulullah sholallahu alaihi wassalam” karangan Syaikh Salim bin ’Ied al-Hilali Syaikh ’Ali Hasan ’Ali ’Abdul Hamid. Pustaka Imam Syafi’i.

Categories: Ilmu
  1. September 1, 2009 at 10:35 pm

    …a.Fajar Kadzib : yaitu saat ketika shalat Shubuh belum tidak sah untuk dilakukan dan tidak pula diharamkan bagi orang yang akan berpuasa untuk makan dan minum….

    bukannya seharusnya

    …a.Fajar Kadzib : yaitu saat ketika shalat Shubuh belum sah untuk dilakukan dan tidak pula diharamkan bagi orang yang akan berpuasa untuk makan dan minum….

  2. mencarimaknahidup
    September 3, 2009 at 10:02 am

    @ pak Sagung : na’am
    iya hehe salah ketik… iya saya editnya…
    makasih pak… ^^7

  3. bagus tejo pramono
    September 8, 2009 at 9:43 am

    saya ijin copy yang ini ya mbak Rous.

  4. mencarimaknahidup
    September 11, 2009 at 10:01 am

    @mas Tejo : tafadhol… monggo2

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: