Home > Ilmu > I’tikaf

I’tikaf

Assalamu’alaykumwarohmatullah wabarokatuhimages
berikut artikel tentang i’tikaf dari buku “Meneladani puasa Nabi” penerbit Pustaka Imam Syafi’i

1. Hikmah I’tikaf
Al-‘Alamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Kebaikan hati dan kelurusan seseorang dalam menempuh jalan Allah tergantung pada totalitasnya berbuat karena Allah dan kebulatannya secara total hanya tertuju kepada Allah subhanahu wa Ta’ala. Kekusutan hati tidak bis dibenahi, kecuali oleh langkah menuju Allah subhanahu wa Ta’ala. Kelebihan makanan, minuman, perbauran dengan ummat manusia, pembicaraan yang banyak dan kelebihan tidur, hanya menambah kekusutan hati. Hal tersebut akan terserak di setiap tempat, memutusnya dari jalan menuju Allah, melemahkan, merintangi, atau menghentikannya dari hubungan kepada Allah.”
Adanya rahmat Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya menuntut disyari’atkannya puasa bagi mereka. Dengannya diharapkan dapat menyingkirkan ketamakan pada makanan dan minuman serta mengosogkan hati dari gejolak hawa nafsu yang menjadi perintang bagi perjalanan menuju Allah subhanahu wa Ta’ala. Dia mensyariatkan puasa sesuai dengan kemaslahatan. Dia akan memberi manfaat kepada hambaNya di dunia dan di akhirat, tidak mencelakakannya, dan tidak memutuskan dirinya dari kepentingan duniawi dan ukhrawinya.
Allah juga mensyariatkan I’tifak bagi mereka agar ruh dan hatinya berkonsentrasi kepada Allah Ta’ala semata, serta ketulusannya hanya untukNya, berkhalwah (menyendiri) denganNya, dan memutuskan diri dari kesibukan duniawi dan hanya menyibukkannya dengan Allah subahanahu wa Ta’ala. Kita menjadikan seluruh perhatiannya untuk dzikir, cinta, dan perhatiannya kepadaNya. Sesungguhnya jauhnya posisi dengan semua perangkat tersebut akan menjadikannya akrab denganNya pada hari yang penuh kelengangan di dalam kubur, tidak ada sesuatu yang dapat menyenangkannya. Selain Dia. Itulah maksud dari I’tikaf yang agung (Zaadul Ma’aad (II/86-87)

2. Pengertian I’tikaf
I’tikaf berarti tinggal menetap di suatu tempat. Karena itu orang yang tinggal di masjid dan melakukan ibadah di dalamnya disebut dengan mu’takif atau ‘aakif.

3. Disyari’atkannya I’tikaf
I’tikaf disunnahkan pada bulan Rmadhan dan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Diriwayatkan secara shahih bahwa Nabi sholallahu alaihi wassalam pernah beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan syawwal. (Diriwayatkan oleh Bukhari (IV/226) dan Muslim (1173))

‘Umar pernah berkata kepada Nabi sholallahu alaihi wassalam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pada masa jahiliyah dulu pernah bernadzar untuk melakukan i’tikaf satu malam di Masjidil Haram,” Beliau bersabda : “Kalau begitu, penuhilah nadzarmu itu.” (Kemudian, ‘Umar pun beri’tikaf selama satu malam) (Diriwayatkan oleh Bukhari (IV/237) dan Muslim (1656))

I’tikaf yang paling baik adalah i’tikaf di bulan Ramadhan. Hal itu didasarkan pada hadits Abu Hurairah radhiyallahuanha : “Rasulullah sholallahu alaihi wassalam biasa beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Adapun pada tahun ketika beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (IV/245))
Yang terbaik lagi adalah i’tikaf yang dilakukan pada hari – hari terakhir dari bulan Ramadhan. Nabi sholallahualaihi wassalam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga Allah subhanahu wa Ta’ala mewafatkan beliau (sampai akhir umurnya). (Diriwayatkan oleh Bukhari (IV/226) dan Muslim (1173) dari ‘Aisyah radhiyallahuanha)

3. Syarat-syarat I’tikaf
a. Dilakukan di dalam masjid
Hal tersebut didasarkan pada firman Allah subhanahu wa Ta’ala :
“…Janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf dalam masjid….” (QS. Al Baqarah : 187)

b. Masjid yang dimaksudkan adalah masjid tertentu saja.
I’tikaf tidak dilakukan pada semua masjid. Pembatasan ini disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih, yaitu :
”Tidak ada I’tikaf, kecuali di tiga masjid”
Maksud dari hadist ini adalah masjidil Haram, Masjid al Aqsa’, dan masjid Nabawi. Lalu masjid seperti apa yang diperbolehkan kita beri’tikaf di dalamnya. Setelah saya tanyakan kepada ustad Andi Arlin, Lc yakni masjid yang didalamnya ada sholat Jum’at nya / digunakan untuk sholat Jum’at. Wallahu ’alam

c. Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk berpuasa (jika dilakukan selain bulan Ramadhan)

4. Hal-hal yang boleh dilakukan oleh Orang yang Sedang Beri’tikaf
a. Keluar masjid
Orang yang beri’tikaf boleh keluar masjid untuk suatu kepentingan atau mengeluarkan (melongokkan) kepalanya dari masjid untuk dibersihkan dan disisir. ’Aisyah radhiyallahuanha bercerita : ”Rasulullah sholallahu alaihi wassalam terkadang memasukkan kepalanya ke kamarku sedang beliau tengah beri’tikaf di dalam masjid, sementara aku berada di dalam kamarku, lalu aku pun menyisirnya. Sesungguhnya antara diriku dan beliau terdapat pintu sedang aku tengah haid. Selain itu, beliau tidak masuk rumah, kecuali untuk kebutuhan (manusia) jika beliau sedang beri’tikaf (Diriwayatkan oleh Bukhari (I/342) dan Muslim (297).)

b. Berwudhu di dalam masjid
Orang yang sedang beri’tikaf, juga yang lainnya, boleh berwudhu di dalam masjid. Hal ini didasarkan pada ucapan seseorang yang mengabdi kepada Nabi sholallahu alaihi wassalam : ”Nabi sholallahu alaihi wassalam berwudhu di dalam masjid dengan wudhu ringan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (V/364) dengan sanad shahih. )

c. Mendirikan kemah kecil di bagian belakang masjid.
Orang yang sedang beri’tikaf boleh melakuka hal ini karena ’Aisyah radhiyallahuanha pernah mendirikan sebuah tenda untuk Nabi sholallahualaihi wassalam jika beliau beri’tikaf. Dan yang demikian itu atas perintah beliau. (Seperti yang disebutkan dalam kitab Shahih Muslim (1173))

d. Menggelar karpet atau tempat tidur di dalam kemah
Hal tersebut berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu ’Umar radhiyallahuanhu dari Nabi sholallahualaihi wassalam, ”bahwasanya jika beliau melakukan i’tikaf, maka digelarkan untuk beliau karpet atau tempat tidur di balik tiang.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (643-Zawaaid))

5. I’tikafnya seorang wanita dan kunjungannya kepada suaminya yang beri’tikaf di dalam masjid
a. seorang wanita boleh mengunjungi suaminya yang tengah beri’tikaf.
Begitu pula suaminya pun boleh untuk mengantarnya sampai ke pintu masjid. Shafiyyah radhiyallahuanha bercerita : ”Nabi sholallahualaihi wassalam beri’tikaf (pada sepuluh malam) terakhir dari bulan Ramadhan). Kemudian, aku datang mengunjungi beliau pada malam hari (saat itu di sisi beliau sudah ada beberapa isterinya lalu mereka pun pergi). Maka aku berbicara dengan beliau beberapa saat. Selanjutnya aku berdiri untuk kembali (Beliau bersabda : Jangan tergesa-gesa, biar aku mengantarmu). Kemudian beliau berdiri bersamaku untuk mengantarku-tempat tinggal Shafiyyah di rumah Usamah bin Zaid-hingga ketika sampai di pintu masjid yang tidak jauh dari pintu Ummu Salamah, tiba-tiba ada dua orang dari kaum Anshar yang melintas. Ketika melihat Nabi sholallahualaihi wassalam kedua orang itu mempercepat langkahnya, maka Nabi bersabda : ”Jangan tergesa-gesa, sesungguhnya ia adalah Shafiyyah binti Huyay” Keduanya menjawab : ”Mahasuci Allah, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda : ”Sesungguhnya syaitan itu berjalan dalam diri manusia seperti aliran darah. Sesungguhnya aku khawatir syaitan itu akan mencampakkan kejahatan dalam hati kalian berdua.” (Diriwayatkan oleh al Bukhari (IV/240) dan Muslim (2157))

b. Seorang wanita boleh ber’itikaf bersama suaminya, ataupun sendirian.
Diriwayatkan dari ’Aisyah radhiyallahuanha : ”Nabi sholallahu’alaihi wassalam biasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sampai akhir hayatnya. Sepeninggal beliau, isteri-isterinya pun beri’tikaf.”

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata : ”Di dalam hadits tersebut terkandung dalil yang menunjukkan diperbolehkannya wanita beri’tikaf. Tidak diragukan lagi bahwa kebolehannya itu dengan syarat ada izin dari walinya. Selain itu, jika keadannya aman dari fitnah serta tidak berduaan/bercampur dengan laki-laki, karena adanya banyak dalil mengenai hal tersebut dan kaidah fiqhiyyah yang berbunyi : ”Menghindari kemudharatan harus lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

wassalamu’alaykum warohmatullah

Categories: Ilmu
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: