Home > Opini > IPS dan IPA pinteran siapa?

IPS dan IPA pinteran siapa?

Assalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Maaf judulnya agak kontroversial, sengaja hahaha😀images

Hem mari kawan kita berflash back, ke jaman SMA tepatnya ketika kelas 2. Yup, saat penjurusan. Sudah menjadi fenomena biasa bahwa kegiatan penjurusan ini akan menimbulkan sensitifisme walaupun tak terlalu terlihat ekstrim. Masalahnya adalah pada proses penjurusannya yang dilakukan melalui seleksi nilai dan prestasi. Mereka yang bernilai ’lebih’ dari standart tertentu akan masuk IPA dan yang lain masuk IPS. Otomotis sistem ini akan menggolongkan kedua jurusan tersebut dari ukuran nilai, angka.

Mari, kemudian kita kembali ke masa ini. Ya, masa dimana kita sudah kuliah atau bekerja dan sudah menekuni studi ilmu masing-masing baik sosial maupun eksak. Pasti skema kita dalam melihat dua jurusan itu berubah, terutama itulah yang saya alami.
Baik, jurusan sosial, saya ambil jurusan komunikasi. Well, pasti banyak yang berpikir ”kuliah macam apa komunikasi itu?” entah dengan nada penasaran atau cibiran, no offense.

Lalu setelah hampir 4 tahun mendalaminya saya mengerti, komunikasi itu displin ilmu yang interdisipliner, campuran antara psikologi, sosiologi, politik, bahkan antropologi, tinjauan sejarah dan sebagainya. Bahkan kini ada komunikasi kesehatan… Sangat kompleks. Lalu mengapa dipandang sederhana. Tentu saja karena tidak tahu.
Saya tidak akan menjelaskan apa yang saya pelajari tetapi akan membicarakan jurusan sosial pada umumnya.

Baik ranah sosial maupun eksak sebenarnya bertujuan untuk kemaslahatan manusia. Yang satu menghadapi fenomena alam, natural, yang satu fenomena masyarakat, sosial. Sosial, berarti di luar diri kita (orang lain) yang kerap diidentikkan dengan masyarakat. Sebuah kelompok yang sangat besar dengan elemen-elemen penyusun yang sangat heterogen. Mustahil jika di dalamnya tidak terdapat masalah, baik itu konflik besar maupun kecil. Menjadi penting karena ini akan mempengaruhi bagaimana kita hidup, atau bagaimana caranya kita hidup di dunia secara sosial.

Begitu banyak masalah hingga untuk menemukan akar masalah butuh kehati-hatian dan kemampuan analisis yang tepat. Haha korban mata kuliah seminar komunikasi saya ini. Oke lanjut, misalnya untuk kasus BLT, oleh pemerintah ini dianggap sebagai sebuah solusi. Ya, solusi berarti penyelesaian masalah. Bagi seorang sarjana atau calon sarjana sosial hal ini tidak bisa diterima mentah-mentah. Akar masalahnya apa? Oke baik kita katakan kemiskinan, lalu apa uang yang mereka butuhkan? Benarkah BLT menjangkau masalah masyarakat miskin yang paling dasar?

Nah, ketidakmampuan analisis inilah yang menyebabkan orang-orang yang berkepentingan misalnya pejabat, pemimpin perusahaan, bahkan mungkin ketua kelas, tidak mampu memberikan solusi yang bisa membuat rakyat kecil nggak lagi teriak-teriak. Melihat masalah sosial tentu tak bisa menggunakan kacamata kuda, berpandangan linier dalam mencari sebab-akibat. Seperti tadi saya bilang, ilmu sosial itu terintegrasi menyilang antara berbagai disiplin ilmunya. Misalnya kita ngomongin masalah efek media terhadap khalayak. Khalayak seperti apa? Harus juga ada studi khalayak yang mana sangat butuh bantuan sosiologi, psikologi, atau antropologi. Yang lebih ektrim misalnya masalah redaksional sebuah UU, harus juga ada kajian semiotika tentang makna bahasa. Karena satu kata bisa memiliki multipretasi jik sampai ke masyarakat (semiotika).

Berati anak sosial seharusnya mampu berpikir dengan lebih luas, tidak hanya 1+1 = 2 bisa jadi 1+1 = 4 jika ada pengaruh variabel-variabel antiseden atau intervening (yang nggak ngerti nanya :D)
Mungkin agak berbeda dengan cara berpikir anak eksakta.

Nah, kembali ke memori masa-masa kita SMA. Begitu banyaknya anak IPA yang kemudian memilih jurusan sosial, yang kebanyakan karena merasa tidak mampu kuliah di jurusan eksakta (hahahaha). Ironisnya, ketika kuliah, banyak mahasiswa sosial yang tidak mampu melakukan analisis sosial untuk mencari akar permasalahan (kata dosen saya, tidak saya sebut namanya ntar kenal pasal 27 ayat 3 UU ITE lagi :P)
Mungkin masalahnya bukan karena semata kemampuan, tetapi juga minat dan orientasi. Setelah kulaih kerja, yah umum kawan… Hanya itu saja kah?
Sehartusnya minimal karya kita alias skripsweet sya la la la itu bisa memberi sumbangsih untuk masalah-masalah sosial.

Ah, begitu peliknya sampai-sampai saya stuck sama tema bakal skripsweet saya -____-’ … Karena apa? Ya karena saya mengalami kesulitan memetakan masalah dalam tema yang ingin saya ambil. Itu dia tadi, apa sebenarnya inti masalahnya?

Jadi, sangat disayangkan sekali jika mekanisme penjurusan itu berdasarkan prestasi alias nilai rapot atau nilai tes. Mengapa tidak dengan seleksi minat dan bakat saja? Dengan proporsi kuota kelas 2 jurusan, IPA dan IPS, yang ’seimbang’. Jangka panjang yang saya bayangkan adalah, ahli-ahli ilmu sosial yang nantinya biasanya menjadi anggota pemerintah tetapi kemampuan analisis masalah-masalah sosialnya kurang, jadinya ya mengeluarkan kebijakan yang tidak solutif. Tapi itu Cuma pendapat saya saja.

Dosen saya (dosen yang sama seperti di atas) mengatakan bahwa untuk urusan IT Indonesia punya peluang untuk bersaing dengan negara lain di dunia, bahkan sudah banyak lomba atau seminar keilmuan di bidang science dimana ahli-ahli Indonesia berperan di dalamnya, tetapi untuk masalah sosial sepertinya belum ada atau belum banyak ada😀

Sebuah polling sederhana pernah saya lakukan bersama kelompok salah satu mata kuliah yang mengatakan bahwa dosen fakultas sosial justru lebih enggan melakukan penelitian / riset ilmiah dibanding mereka yang eksak.

Hem… itu cuma sebagian kecil dari masalah sistem pendidikan kita yang secara sepihak saya maknai😀
Ini hanya pemikiran logis, common sense, tidak disertai data statistik hoho…

Nah, teman-teman yang di tag bagi-bagi pengalamannya ya…
Terima kasih ^^
Wassalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Categories: Opini
  1. September 12, 2009 at 3:48 am

    Gimana ngomentarinya ya ???
    Terus terang ana juga di MAN dulu ngambil jurusan IPA, dengan niat “ ingin masuk UNHAS jurusan biologi and saran my teacher biologi ana untuk ngambil itu and my hobby penelitian ( masuk laboratorium)” tapi ngga tahu kenapa pas mau selesai di MAN ana ngambil jurusan bahasa arab padahal ana paling ngga suka pelajaran bahasa ( Qaddarullah ).
    Tulisan mba ros ingatin masa lalu ana di SMA , jalan sama teman –teman ( laki – perempuan )” ya ALLAH ampunilah dosa ana karna ketidaktahuan ana akan hukumnya”.
    IPS and IPA pinteran siapa ???
    Allah Jalla Wa ala mengatakan dalam Firmannya “ sungguh tiap – tiap manusia telah mengetahui tempat minumnya masing – masing ( al – baqarah : 60 ) “ and “ sesungguhnya usaha kalian berbeda – beda ( al – lail : 4 ).
    Insyallah semua ilmu yang kita pelajari selain dari ilmu yang para ulama melarang untuk mempelajarinya semisal filsafat, insyallah ada mamfaatnya lah. Tapi dia bisa berbalik hukum kalau dia di pergunakan untuk selain kemaslahatan ummat. “ sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya ( hadist dari sahabat umar bin khattab and bukhari – muslim ).
    Susah dalam memetakan masalah ???
    Saya kira anak kuliahan udah pelajari itu ??? yang pernah ada dapat di LDK ( waktu menjabat ketua Risna ) dulu ada dua metode :
    1 . metode yang pertama ana lupa ..
    2 . memetakan masalah dengan metode tulang ikan.
    Masalah apa yang anda punya insyallah bisa di bawa kemetode tersebut ( kuliah, pribadi , skirpsi and lain – lain ). Tapi ana udah ngga pake lagi karna kebanyakan masalah ana sekarang “ masalah pibadi “ aja. Jadi kalau ada masalah ana sekarang tempat kembali ana ya.. Al – Qur’an sebab Allah mengatakan “ sungguh kami telah menurunkan kitab ( Al – qur’an ) yang di dalamnya disebutkan tentangmu” ( al – anbiya : 10 ).
    Wallahu ta’ala A’lam
    Note :
    – setiap ana ngomentari larinya ke agama karna itulah spesialis ana.
    – Kalau ada sebuah masalah di tanyakan sama anak jurusan biologi, fisika, agama,pariwisata,komunikasi and jurusan yang lain tentu mereka datang dengan jawaban yang sesuai spesialisnya tapi tujuannya sama.

  2. bagus tejo pramono
    September 14, 2009 at 7:20 am

    ini yang di post via FB kemaren kan?

    sedikit saran saja mbak:
    akan terlihat lebih rapi jika artikel di atas di buat “align full” rata kanan – rata kiri. ^^

  3. mencarimaknahidup
    September 14, 2009 at 10:25 pm

    @ akh Abu : iya, makasih komennya, jazakallah khayran… itu kelebihna akhi… semoga bisa mengingatkan saya dan saudara yang lain ^^
    @ mas Bagus : itu ngaturnya di waktu nulis ya (new post) baiklah, nanti saya coba

  4. September 15, 2009 at 12:27 pm

    Ah, begitu peliknya sampai-sampai saya stuck sama tema bakal skripsweet saya -____-’

    nah kan, ada gini-nya -____-‘

    :p

    oh iya kak rous, mungkin analisa IPA dan IPS, lebih baik IPS…sering jadi BOS😀

  5. mencarimaknahidup
    September 17, 2009 at 1:05 am

    @ mas didit : wow… BOS… Cool…😀
    aku mau jadi bos juga… tapi bos……………

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: