Home > Cerita > Ketika Aku di Rumah

Ketika Aku di Rumah

“Tiada tempat seindah ‘rumah’, dan tiada perjalanan seindah ‘pulang’”

Assalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Alhamdulillah, hanya Allah pemberi ampunan dan kebahagiaan. Akhirnya bisa juga pulang, ke rumah orang tua di Magetan, Jawa Timur. Sebuah kebahagiaan setelah liburan panjang semester genap lalu tak bisa pulang… tergantikan sudah.
Bertemu kembali dengan mereka yang mengasihi dan saya kasihi..
Baiklah, saya akan kembali berceloteh tentang rumah saya😀

15 September 2009, 03.20 WIB
Saya tiba di stasiun Madiun… Huhu lama tak kemari, rasanya ada beberapa perubahan tapi kebanyakan sih masih sama. Hemm… bau udara di Madiun beda ya sama stasiun UI😀
Seperti biasa banyak penjaja becak, ojek, taksi yang langsung mengerubuti setiap penumpang kereta yang baru menampakkan sebagian anggota tubuhnya di pintu keluar. Untungnya saya dijemput jadi bisa menolak tawaran mereka dengan halus. Karena berniat untuk puasa saya langsung mencari makan sahur, asyiiik makan nasi pecel😀
Wuuhhaaa rasanya beda,, enak >,< jadi terharu…
Nasi pecel di Madiun, khas teman-teman, makannya pake daun pisang yang ditusuk lidi di ujungnya atau biasa disebut pincuk. Sederhana tapi nikmat, nasi putih dengan sambel kacang, lalu kulupan (sayur direbus) dan ada pilihan lauk pendampingnya. Tempe, rempeyek, kerupuk lempeng, daging sapi, otak, telur, bahkan sampai lidah sapi (ahakahak).

Hem… entah mengapa udara di rumah saya berasa beda sama di Depok, nggak terlalu panas, bahkan jika pagi atau malam cenderung dingin berangin huhu… Jadi tak perlu lagi sering-sering nyalain kipas angin. DSC00459

Baik, lanjut ke scene yang lain. Saya suka kecepatan, termasuk naik motor dengan kecepatan tinggi😀. Saya punya motor kesayangan Yamaha ”F1ZR” merah dengan kopling yang mungkin saat ini sudah jarang ditemui. Motor ini masih ada sampai saat ini di rumah dan masih sering diperbaiki. Sekarang tarikannya mantap, ringan, jadi di gas dikit udah kenceng larinya. DSC00451

17 September 2009 05.30 WIB
Saya mengobati rindu untuk kembali bersama motor ini ngebut-ngebutan hahaha. Kali ini cukup dengan keliling kampung yang masih sepi, ahay karena masih sepi ya pake 80-100 km/jam cukup lah ya… Wooowwww… seruu!! Senang, senang, senang.😀 DSC00447

Hem… setelah berkendara memecah pagi yang masih malu-malu saya keluar ke pekarangan belakang rumah. Mengamati tingkah lucu bebek-bebek piaran. Mereka gemar bergerombol, kalo ada yang pergi ke kanan semua ikut ke kanan, pergi ke kiri semua ikut ke kiri ahak ahak… *saya isengin aja sekalian😀
Biarpun agak-agak bau ~.~DSC00454

Lalu kembali berjalan di sisi barat pekarangan dan aku melihat bekas ring basket yang sudah tak berwujud. DSC00456

Ya, aku suka basket, dulu pas SMA pernah sempet ikut club dan jadi center tapi Cuma beberapa minggu. Nggak boleh lagi sama papa karena latihannya selalu malam… Kemudian aku berjaln kembali ke dalam rumah, ke dapur tempat biasanya mbah uti memasak sate gulai kambing yang akan dijual di pasar. Hem.. aku tersenyum melihat kompor tanah kuno yang masih tetap digunakan hingga sekarang, padahal sudah ada kompor gas elpiji sesuai saran pemerintah tapi tetep kompor model ini tak tergantikan zaman. ^^DSC00458

Sedikit saja cerita, singkat tapi membuatku bisa kembali dan kembali bersyukur bahwa Allah subhanahu wa Ta’ala masih memberikan nikmatnya hingga saat ini. Di penghujung Ramadhan, yang harus kita isi dan giatkan dengan ibadah kepadanya. Dan rumah akan tetap menjadi tempat yang paling indah, maka buatlah indah… ^^

Wassalamu’alaykum warohmatullah wabarokatuh

Categories: Cerita
  1. Sadat ar Rayyan
    September 17, 2009 at 9:51 am

    Rumah lumayan di desa ya buek ? ^^
    oo itu to bebeknya.. ^^

  2. mencarimaknahidup
    September 17, 2009 at 10:40 am

    @ pakde sadat : memang di desa ^^
    iya itu bebek piaran mbah sama papa… haha lumayan bikin rame pekarangan…

  3. bagus tejo pramono
    September 18, 2009 at 7:21 am

    pecel Tulungagung juga tak kalah lezatnya lho…
    v^^,

    17 September 2009 05.30 WIB
    Saya mengobati rindu untuk kembali bersama motor ini ngebut-ngebutan hahaha. Kali ini cukup dengan keliling kampung yang masih sepi, ahay karena masih sepi ya pake 80-100 km/jam cukup lah ya… Wooowwww… seruu!! Senang, senang, senang.
    ~ini yang “Valentino ROUSi” jadi-jadian kemarin yah? kok masi sempet untuk kebut2 lho.

    ada lagi yah tiba2 merasa iba saya melihatnya, itu lho: “ring basketnya”

    dan PAWONANE iku lho mantaff, di rumah saya juga banyak. makanan akan terasa lebih nikmat jika dimasak di “kompor” tradisional tersebut.

  4. mencarimaknahidup
    September 18, 2009 at 10:49 am

    @ mas Tejo : ahay… ngebut tu enak mas…
    ring basket sejak jaman SMA itu nggak keurus hehe… betul betul masakan dari Pawonan itu lebih nikmat ^^

  5. October 26, 2009 at 3:13 pm

    jadi inget rumah nenek di magelang. jalannya juga mirip.😛
    kebut-kebutannya sih inget jaman smp ama sma. sma juga sama-sama naek f1zr tapi yang full clutch. sempet mau dibeliin bapak 125z, tapi ndak jadi. mundak ugal-ugalan neng ndalan. hihihhi.

    • mencarimaknahidup
      December 31, 2010 at 3:50 am

      @mas cahyo : itu aku dibeliin F1ZR karna sebelumnya aku minta motor cowok macam tiger dan sejenisnya tapi g dibolehin😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: