Home > Ilmu > Ideologi dan Hegemoni dalam Film G30S / PKI Sebuah Analisis Kritis

Ideologi dan Hegemoni dalam Film G30S / PKI Sebuah Analisis Kritis

images (1)

BAB I PENDAHULUAN

Film G30S / PKI merupakan tontonan wajib bagi penduduk Indonesia ketika masa pemerintahan Orde Baru setiap tanggal 30 September. Film yang diproduksi tahun 1984 ini merupakan versi resmi pemerintah Orde Baru yang memang wajib ditayangkan oleh stasiun TV (kala itu TVRI sebagai televisi satu-satunya dan juga berlaku ketika televisi swasta muncul). Film berdurasi 220 menit ini menceritakan kembali kejadian sejarah yakni tanggal 30 September hingga 5 Oktober 1965.

Pada intinya film ini berusaha menjelaskan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) lah yang bertanggungjawab atas peristiwa 30 September 1965 yang lalu. PKI yang bertanggungjawab atas tewasnya 6 jenderal dan 1 perwira Angkatan Darat yang saat ini kita kenal sebagai pahlawan Revolusi. Peristiwa 30 Septemebr 1965, dalam film tersebut, dikatakan sebagai upaya kudeta yang dilakukan oleh PKI yang bekerjasama dengan pasukan Cakrabirawa. Pasukan Cakrabirawa adalah pasukan khusus pengawal presiden Soekarno saat itu yang juga merupakan anggota Angkatan Darat. Upaya ini kemudian digagalkan oleh Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Mayor Jendral.

Hingga saat ini terdapat berbagai kontroversi yang berkaitan dengan peristiwa yang diceritakan dalam film ini terutama tentang pro dan kontra keterlibatan PKI pada 30 September 1965. Berbagai spekulasi dan pendapat muncul, akan tetapi harus dapat diakui bahwa film ini, selama wajib diputar di stasiun TV Indonesia, telah mmberikan gambaran yang kuat akan segala sosok yang ditampilkan di film tersebut. Sebagai bukti bahwa hingga saat ini PKI masih dianggap sebagai pelaku peristiwa tersebut, masih terdapat diskriminasi terhadap anggota keluarga mantan PKI, dan masyarakat masih sebegitu paranoia nya sehingga banyak aliansi atau organisasi anti komunis di Indonesia. Pada masa Orde Baru bahkan buku-buku yang diduga kiri disingkirkan beserta pengarangnya. Salah satu yang banak dikenal adalah Pramudya Ananta Toer yang bahkan mungkin saja tidak pernah terlibat dengan PKI. Untuk itulah hingga kini banyak orang yang merupakan keluarga anggota PKI tidak berani mengakui asal-usulnya atau bahkan menghapus catatan sejarahnya bahwa ia memang keturunan anggota PKI.

Kuatnya pengaruh film ini terhadap penilaian masyarakat tentang PKI menjadi alasan mengapa tema ini saya angkat. Makalah ini berusaha menganalisis secara kritis muatan apa saja yang dikonstruksikan oleh film ini sedemikian rupa sehingga stigma PKI masih sedemikian buruk di mata masyrakat yang kemudian berimbas pada bentuk diskriminasi.

BAB II

PEMBAHASAN FILM

  1. A. Jenis dan Genre

Film G30S / PKI merupakan jenis film dokumenter dan bergenre film perjuangan. Hal ini karena film ini berusaha menampilkan peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Tokoh-tokoh dan cerita yang ditanpilka bukan fiksi sehingga film ini beusaha menceritakan kembali peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Walaupun keakuratan fakta yang ditampilkan masih dipertanyakan.

Film ini juga menjadi bagian dari film revolusi yakni film – film yang dikatagorikan sebagai bagian dari upaya mencapai dan mempertahankan kemerdekaan dan kedauatan Republik Indonesia. Berdasarkan pembagian film oleh Salim Said dalam buku Film, Ideologi, dan Militer, “Pengkhianatan G30SPKI” merupakan jenis film dokudrama. Menurut Salin Said film yang berjenis dokudrama memiliki tujuan untuk mengawetkan kisah atau kejadian sejarah dan heroik. Film-film yang dikatakan sebagai dokudrama memiliki karakteristik sebagai berikut :

1.  Film yang termasuk dalam katagori ini berusaha untuk mengawetkan kejadian historis dan heroik.

2.  Merupakan upaya konstruksi terhadap heorisme kelompok militer, dalam film ini khususnya angkatan darat.

3.   Melanggengkan citra dan peran militer dalam menentukan nasib negara Indonesia.

Produksi :

Film G30S / PKI diproduksi oleh Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN) dan dibuat pada tahun 1984. Naskah film ini ditulis dan disutradarai oleh Arifin C. Noer. Beberapa pemain dalam film ini adalah Umar Kayam, Didi Sadikin, Kies Slamet, Sofia WD, Wawan Wanisar. Dan film ini diproduseri oleh Gufron Dwipayana.

Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN)

  • Pendirian perusahaan Film Milik Negara

Cikal bakal berdirinya perusahaan film milik negara ini diawali dengan pendirian perusahaan perfilman oleh Albert Ballink pada tahun1934. Perusahaan ini bernama Java Pasific Film namun pada tahun 1936 namanya berubah menjadi Algemeene Nederlands Indiesche Film (ANIF). Perusahaan ini memfokuskan diri pada pembuatan film cerita dan film dokumenter. Peristiwa pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 disertai dengan pengambilalihan seluruh kekayaan yang berada di bawah
kekuasaan Hindia Belanda oleh pihak Jepang, salah satunya adalah Algemeene Nederlands Indiesche Film (ANIF). Setelah terjadinya peristiwa tersebut, Jepang kemudian mendirikan sebuah perusahaan perfilman yang diberi nama Nippon Eiga Sha yang berada di bawah pengawasan Sendenbu. Film yang diproduksi Eiga Sha pada umumnya bertujuan sebagai alat propaganda politik Jepang

  • Perkembangan Perusahaan Film Milik Negara

Perkembangan Perum PFN diawali dengan terbentuknya BFI yang dilatarbelakangi oleh adanya gerakan karyawan film yang bekerja pada Nippon Eiga Sha. Adanya peristiwa penandatanganan draft persetujuan penyerahan Nippon Eiga Sha kepada perwakilan Indonesia pada tanggal 6 Oktober 1945 semakin mempermudah gerak para karyawan BFI untuk melakukan peliputan berbagai peristiwa bersejarah. Pada tahun 1950, BFI berganti nama menjadi Perusahaan Pilem Negara (PPN) namun penyempurnaan EYD membuat namanya berubah kembali menjadi Perusahaan Film Negara (PFN). Pergantian nama perusahaan kembali terjadi dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 55 B/MENPEN/1975 pada tanggal 16 Agustus 1975.

Berdasarkan surat keputusan ini maka secara resmi PFN berubah menjadi Pusat Produksi Film Negara (PPFN).

Pergantian nama kembali terjadi seiring dengan
berbagai usaha yang dilakukan untuk mengembangkan perusahaan dan agar perusahaan dapat dikelola secara profesional dengan menggunakan prinsip-prinsip yang dapat memberikan keuntungan bagi negara serta mampu untuk mendiri. Agar dapat mencapai hal tersebut maka PPFN merubah statusnya menjadi Perum sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1988 yang dikeluarkan pada tanggal 7 Mei 1988. Dengan demikian resmilah PPFN berganti nama menjadi Perusahaan Umum Produksi Film Negara (Perum PFN).

Poduser : Gufron Dwipayana

Gufron Dwipayana lahir di Jember, Jawa Timur, 12 Desember 1932  atau lebih dikenal dengan nama G. Dwipayana adalah salah satu sutradara televisi Indonesia dan juga mantan Direktur PPFN. Karya karya film baik di layar lebar maupun televisi yang pernah dibuatnya antara lain adalah Si Unyil, Pengkhianatan G 30 S/PKI, Serangan Fajar, Aku Cinta Indonesia (ACI) dan Si Huma. Sebelum terjun di bidang film, Dia adalah mantan anggota militer angkatan darat dengan pangkat Brigadir Jenderal. Sebagai mantan militer, ia dekat dengan Soeharto. G. Dwipayana merupakan sosok yang menghormati bahkan cenderung ”manut” kepada Soeharto.

Hal tersebut digambarkan dalam percakapan yang ditulis Ramadhan antara Soeharto dan G. Dwipayana ketika Soeharto mengundurkan diri dari kursi presiden tahun 1998 :

Dalam salah satu kesempatan Ramadhan, si penulis mempertanyakan kalimat Suharto berikut kepada Dwipayana, “Mengenai kesalahan, saya berpikir, ‘Siapa yang mengukur salah itu? Siapa yang menyalahkan?’ Sekarang, misalnya, pekerjaan saya sudah saya laksanakan, berjalan baik dan berhasil, menurut ukuran saya. Tetapi kalau ada orang lain yang melihat hasil pekerjaan saya itu dari segi yang lain, lalu menilai salah atau gagal, maka saya akan berkata, ‘Itu urusan mereka’. Saya percaya, bahwa apa yang saya kerjakan, setelah saya memohon petunjuk dan bimbingan-Nya, itu adalah hasil bimbingan Tuhan” (Soeharto 1989:563).

Maka Dwipayana menjawab, “Begitulah Pak Harto. Dan pemimpin Jawa tidak boleh kelihatan cacatnya di depan rakyat” (Ramadhan/Chambert-Loir 1999:599).[1]

Dalam sumber yang sama disebutkan juga bahwa G. Dwipayana memaksa Ramadhan untuk menuliskan riwayat Soeharto.

Ketika Ramadhan menjawab mau pikir-pikir untuk menuliskan riwayat Suharto, maka Birgjen G Dwipayana menyatakan, “…saya tidak mau dengar Pak Ramadhan menolak!” Sang penulis pun seperti terpaksa mengingat isterinya sebagai pegawai negeri, “…Mau coba-coba melawan keinginan Presiden Soeharto waktu itu?” Selanjutnya “…di tengah suasana yang sudah mencekam terbentuk menakutkan kalau kita melawannya”. Pada penutup penuturannya Ramadhan menyatakan, “Waktu pekerjaan saya rampung sudah dan bukunya terbit, bukan main senangnya saya…”.

Sutradara : Arifin C. Noer

Arifin C. Noer Dilahirkan di Cirebon tanggal 10 Maret 1941. Ia adalah sutradara teater dan film yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik. Alasan dan motif keterlibatannya dalam pembuatan film G30S / PKI ini tidak berhasil penulis temukan. Namun, di salah satu sumber (Majalah Tempo) menyebutkan bagaimana Arifin dan timnya bekerja dan memproduksi tokoh Aidit dalam film ini. Menurut keterangan EMBIE C. Noer, yang bertindak sebagai direktur musik film itu, kata-kata Arifin saat mendeskripsikan film yang akan mereka buat (G30S) dengan sangat singkat, hanya dengan mengatkan ”Ini film horor, Mbi.”

Kemudian menanggapi adanya diskusi tentang tokoh Aidit yang bukan perokok Embie mengatakan  ”Mas Arifin sedang tidak merekonstruksi fakta, melainkan menyodorkan sebuah diskusi politik,” kata Embie. Ia prihatin melihat berbagai diskusi yang muncul saat itu tentang pencitraan Aidit, dan film itu secara umumnya, yang hanya ditakar dari sisi estetika, bukan secara substantif. ”Banyak yang gagal membaca film ini,” keluh Embie. Dalam wawancaranya dengan majalah Tempo 23 tahun silam, Arifin mengatakan bahwa niatnya membuat film ini adalah sebagai ”film pendidikan dan renungan tanpa menawarkan kebencian” (Tempo edisi 6/14, 7 April 1984). Sedangkan Jajang C. Noer, istrinya (dari sumber yang sama) mengatakan Ihwal Aidit yang merokok. Saat itu Arifin merasa merokok sebagai representasi dari The Thinker. ”Secara visual terlihat lebih bagus penggambaran seseorang yang berpikir keras itu lewat rokoknya,” ulas Jajang. ”Itu sebabnya ada adegan di mana layar hanya dipenuhi asap rokok sebagai metafor sumpeknya suasana politik Indonesia.”

Pernyataan ini sungguh bertolak belakang dengan apa yang ditampilkan di film tersebut.  Untuk sebuah film sejarah dimana masyarakat akan meyakini film tersebut sebagai satu-satunya informasi tentang G30S yang memang sangat minim script, penggambaran tokoh dan cerita tidak hanya bisa didasarkan pada estetika, tapi juga etika dan fakta. Untuk seorang sineas besar macam Arifin seharusnya ia mengetahui hal tersebut. Dugaan penulis adalah Arifin mengalami tekanan ketika menggarap film tersebut. Hal itu bisa terlihat dari produser yang mendanai film ini yang merupakan mantan anggota militer. Sebagai seorang sineas nasib Arifin kala itu pasti amat tergantung pada PFFN yang masih menguasai produksi dan distribusi film. Monopoli ini yang mungkin saja menjadi alasan Arifin untuk mau tidak mau membuat film sesuai pesanan penguasa.

Jika memang apa yang digambarkan dalam film ini adalah benar adanya, mengapa setelah kebebasan berpendapat terjadi (setelah jatuhnya Soeharto) banyak buku yang mencoba men-counter apa yang ditampilkan, baik tentang Aidit, PKI, maupun peristiwa 30 September itu sendiri.

Distribusi

Film G30S / PKI wajib ditayangkan di TVRI setiap tanggal 30 September sebelum televisi swasta hadir. Setelah televisi swasta nasional muncul, dikenakan pula aturan yang sama dan baru dihentikan penayangannya pada tahun 1997.

Tinjauan Historis

Peristiwa 30 September 1965 sebenarnya dilatarbelakangi oleh relasi kekuasaan antara PKI, TNI AD, dan Presiden Soekarno yang digambarkan pula secara implisit dalam film G30S / PKI. Menurut Ma’soed (1989) dalam masa Demokrasi Terpimpin, politik Indonesia merupakan cerminan dari dinamika hubungan kekuasaan yang saling bersaing antara Presiden, PKI, dan TNI AD. Angkatan Darat dengan ideologi Dwifungsi ABRI berusaha merambah dan menguasai ranah politik, para serdadu tidak lagi hanya ingin berperang tetapi juga memiliki andil dalam penyusunan kebijakan. Pernyataan sikap Angkatan Darat ini disampaikan oleh pemimpin AD, AH Nasution, pada tanggal 12 November 1958 ketika ulang tahun akademi Militer Nasional. Dalam pidatonya yang juga ditulis oleh Muhaimin (1971), Nasution memboca memfomulasikan kedudukan TNI AD di dalam negara.

Pada periode tahun 1959 – 1966 terdapat aliansi kompetitif antara presiden Soekarno dan pimpinan Angkatan Darat, Jendral AH. Nasution. Sementara dalam periode ini pula PKI menjadi satu-satunya partai politik yang berkembang dengan pesat dan semakin kuat kedudukannya. Anggota PKI kala itu mencapai tiga juta orang di pertengahan tahun 1960-an. Selama masa itu presiden Soekarno bertindak sebagai penyeimbang antara kedua kekuatan lainnya. Presiden Soekarno dibutuhkan PKI sebagai pelindung melawan Angkatan Darat, sedangkan bagi Angkatan Darat, Presiden Soekan befungsi sebagai pemberi legitimasi bagi keterlibatan militer dalam politik. Di sisi lain presiden Soekarno membutuhkan Angkatan Darat untuk menghambat PKI, tetapi juga membutuhkan PKI untuk memberikan organisasi yang efektif dalam rangka menggerakkan massa dalam jumlah besar. Pengaruh PKI ini menguat ketika presiden Soekarno mencetuskan gagasan NASAKOM (Nasionalis, Agamis, dan Komunis) untuk menjelaskan tiga kekuatan negara. Pada tahun awal 1965 Presiden Soekarno mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terlepas dari ABRI. Angkatan kelima merupakan sukarelawan dari masyarakat yang dipersenjatai. Pendapat lain mengatakan bahwa usulan ini merupakan saran dari PKI, sehingga terjadi saling mencurigai antara militer dan PKI.

Hubungan kompetitif tersebut semakin ditunjukkan dengan dibentuknya gerakan – gerakan pemuda dan wanita yang menjadi bagian organisasi PKI, yang kemudian Angkatan Darat juga membentuk hal yang sama. Konflik ini menyebabkan terjadinya kemelut dalam perekonomian Indonesia yang kemudian menjadi konflik politik yang berujung pada peristiwa G30S yang diklaim sebagai tindakan kudeta PKI terhadap negara kesatuan Republik Indonesia oleh Angkatan Darat dan sebagian besar masyarakat. Pada peristiwa ini pula sebelumnya berembus isu Dewan Jenderal yang mengungkapkan adanya beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas terhadap Soekarno dan berniat untuk menggulingkannya. Dalam film ini disebutkan bahwa isu ini sengaja dihembuskan oleh PKI untuk mengurangi kepercayaan presiden Soekarno terhadap Angkatan Darat.

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

A. Stereotype

Dalam definisi psikologi, stereotipe adalah citra mental yang kelewat sederhana mengenai sebuah realitas sosial, an over-simplified mental image of the social reality.

B. Film sebagai Media Representasi

Graeme Turner (1991:128) mengatakan : “Film does not reflect or even record reality; like another medium of representation it constructs and ‘represent’ it pictures of reality by way of codes, convention, myth, and ideologies of its culture as well as by way of the spesific signifying practices of the medium”

Film tidak mencerminkan atau bahkan merekam realitas, seperti medium representasi yang lain ia mengkonstruksi dan “menghadirkan kembali” gambaran dari realitas melalui kode-kode, konvensi-konvensi, mitos, dan ideologi-ideologi dari kebudayaannya sebagaimana cara praktik signifikansi yang khusus dari medium.

Dalam perkembangannya, film tidak hanya dimaknai sebagai karya seni tetapi lebih sebagai praktik sosial (Turner, 1991) serta komunikasi massa (Jowett  dan Linton, 1981). Karakteristik film sebagai media massa juga mampu membentuk semacam konsesnus public secara visual karena film berkaian dengan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan nyata masyarakat.

Dalam perspektif Marxian film dianggap memiliki aspek ekonomi sekaligus ideologis. Sehingga film tidak hanya berupa produk dari struktur sosial, politik, dan budaya, tetapi juga sekaligus membentuk dan mempengaruhi dinamika struktur tersebut. Upaya konstruksi tidak dapat dipasahkan dari konsep ideologi dan hegemoni. Untuk itu sebuah film dokumenter bisa dipertanyakan tingkat akurasinya ketika menggambarkan atau mengkonstruksi peristiwa yang diciptakan oleh film. Hal ini karena seorang sineas bukanlah seorang sejahrawan yang biasanya melupakan perkara sepele yang detail yang bagi sebuah sejarah hal tersebut sangat bernilai.

C. Ideologi dan Ideologi Militer

Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide“. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu secara umum dan beberapa arah filosofis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan untama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik.

Ideologi dalam cultural studies (croteau and hoynes, 2000: 157) adalah sebuah kerangka berpikir melalui mana manusia menginterpretasikan, memberikan makna, mengalami dan tinggal di dunia. Menurut John Fiske (Turner 1998: 13, 24-26) ideologi ditanamkan melalui institusi-institusi seperti media, sekolah, dan institusi lainnya.  Ideologi tidak hanya memproduksi budaya namun juga memproduksi kesadaran kita akan diri. Ideologi beroperasi secara implisit untuk kemudian memproduksi realitas. Ideologi ada dalam segala aspek kehidupan dan kita peroleh secara taken for granted. Ideologi terinternalisasi dalam kehidupan kita sehingga kita tidak sadar akan kehadirannya.

Cultural studies mengatakan bahwa teks media tidak hanya mempromosikan ideologi dominan namun juga ideologi yang bertentangan dengan ideologi dominan. Menurut Stuart Hall, (Croteau & Hoynes, 2000 : 165 – 194), media massa merupakan salah satu bentuk ‘cultural leadership’ yang menerapkan praktek hegemoni. Menurutnya media tidak begitu saja merefleksikan realita di dunia namun merepresentasikannya. Kata merepresentasikan mengandung kesan adanya seleksi dalam menampilkan realitas. Jadi media secara aktif membuat makna tentang dunia dan menyampaikannya ke benak publik. Istilah representasi tidak sama dengan istilah realitas, namun hasil proses seleksi yang memungkinkan adanya suatu aspek yang ditonjolkan dan ada aspek lain yang dihilangkan.    Ideologi juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi isi media.[1] Raymond William (dalam eriyanto, 2001) mengklasifikasikan penggunaan ideologi tersebut dalam tiga ranah :

  1. Sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu.
  2. Sebuah sistem kepercayaan yang dibuat –ide palsu atau kesadaran palsu- yang biasa dilawankan dengan pengetahuan ilmiah. Ideologi dalam pengertian ini adalah seperangkat kategori yang dibuat dan kesadaran palsu dimana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk mendominasi kelompok lain.
  3. Proses umum produksi makna dan ide. Ideologi disini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan produksi makna.

Sedangkan ideologi militer dikenal dengan ”Dwifungsi ABRI”. Teori kebutuhan ideologi menurut Clifford Geertz (1994; Kleden, 1988) ada dua yakni teori kepentingan tentang ideologi (the interest theory) dan teori ketegangan tentang ideologi (the strain theory). Dwifungsi ABRI sebagai ideologi bisa dijelaskan dengan kedua teori tersebut. Di satu sisi, mengikuti teori kepentingan, kemunculan Dwifungsi ABRI bisa dilihat sebagai pantulan dari adanya kepentingan ABRI sebagai sebuah kelompok sosial. Dan dwifungsi ABRI merupakan alat untuk mewujudkan kepentingan politik dengan cara merebut kekuasaan dan menggunakannya untuk ”memaksakan” terwujudnya masyarakat yang sesuai dengan cita-cita sosial politiknya. Dari sisi lain, berdasarkan Teori ketegangan, dwifungsi ABRI bisa dilihat sebagai pembela. Dwifungsi ABRI menegaskan adanya kekacauan dan ketidaktertiban rezim Orde Lama yang diakibatkan oleh tidak optimalnya fungsi pemerintahan sipil.

Jacques Van Doorn (1971) merumuskan ada tiga tipe ideologi militer yaitu :
– Ideologi politik : mencakup doktrin-doktrin politik, tidak asli berasal dari militer   tetapi dari pemimpin gerakan politik.

– Ideologi Korporat : produk sistem militer, posisi dan fungsi sosial militer (sebagai nation builder). Nilai ini ditransformasikan kepada masyarakat.

– Ideologi Operasional : tindakan kekerasan dalam keadaan bahaya, mengancam, dan penuh ketidakpastian.

D. Hegemoni

  1. Hegemoni menurut Gramsci adalah “Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.”

Dalam bukunya, Selections from the Prison Notebooks (1971) Gramsci mengatakan bahwa hegemoni atau hadirnya kekuasaan adalah cara yang kuat. Hegemoni bukanlah supremasi yang diperoleh melalui dominasi atau koersi melainkan melalui kepemimpinan moral atau intelektual. Sehingga hegemoni merupakan kontrol sosial secara internal dengan membentuk keyakinan terhadap norma yang berlaku. Dalam konteks media, Arthur Asa Berger (Hendarto, 1993 : 74) mengatakan bahwa media merupakan instrumen hegemoni yang tidak disadari tetapi memiliki pengaruh yang kuat dan mendalam. Hal ini karena media membantuk gambaran tentang dunia bagi tiap individu.

Dari terminologi pretorianisme yang dikemukakan oleh Nordlinger (1977) bisa dikatakan bahwa militer menginginkan sebuah sistem dimana para perwira dan petinggi militer dianggap sebagai pahlawan dan aktor-aktor politik yang terpenting. Untuk itu setiap petinggi militer berusaha untuk menggambarkan dirinya sebagai sosok yang bertanggungjawab dan patriotik yang mengintervensi persoalan sipil sebagai bentuk tanggungjawab kepada konstitusi dan bangsa.

E. Maskulinitas

Maskulinitas dapat diartikan bukan sebagai keadaan biologis seperti seks yaitu laki-laki berpenis dan perempuan tidak berpenis namun sebagai gender yang merupakan bentuk pengkategorian laki-laki dan perempuan dalam identitas, relasi dan peran dalam kehidupan sosial. Seperti pendapat Harding (1968) dan Siva (1989), feminitas dan maskulinitas sebagai sebuah konsep nilai yang kontradiktif pada dasarnya dapat saling dipertukarkan, artinya, feminitas tidak mesti hanya dimiliki oleh kaum perempuan dan juga maskulinitas tidak serta-merta hanya dimiliki oleh laki-laki (Fakih, 2001:101). Namun karena pemahaman gender telah dilegitimasi melalui nilai-nilai dan norma-norma budaya masyarakat maka citra ideal telah dilekatkan pada laki-laki dengan ciri maskulin dan perempuan dengan ciri feminin. Singkatnya, maskulinitas telah disepakati secara sosial sebagai citra ideal bagi kaum laki-laki dan kemudian diwariskan dalam masyarakat.[2]

F.Propaganda
Upaya propaganda dilakukan dengan menyajikan fakta dengan setengah kebenaran, digunakan untuk mengubah pendapat atau memperkuat pendapat masyarakat. Propaganda yang paling berhasil adalah propaganda yang akan mendorong manusia untuk beraksi atau sebaliknya memperkuat sesuatu yang tadinya sudah diyakini oleh manusia sebagai kebenaran, kemudian dijadikan sedemikian hingga orang itu tidak lagi mempercayai kebenaran tersebut dan menjadikannya malas melakukan kebenaran yang sebelumnya telah ia yakini. Propaganda mencoba mengubah pendapat umum, khususnya untuk menjadikan orang agar menyesuaikan diri terhadap sudut pandang propagandis. Dalam segi ini, propaganda manapun merupakan suatu bentuk manipulasi, untuk merubah aktivitas individu menjadi aktivitas khusus. Bentuk-bentuk komunikasi Modern, termasuk media massa, merupakan alat-alat propaganda. Tanpa pemusatan monopoli media massa, bisa dipastikan tidak ada terjadi propaganda.

BAB IV

KONSEP-KONSEP DALAM FILM G30S / PKI

(untuk pembahasan isi film, buat yang mau tahu silahkan email ke om_rousta@yahoo.com dengan menyertakan nama, email, no.HP, website (jika ada), kampus/institusi)

tararengkyu😀

[1] J. Shoemaker, Pamela dan Stephen D. Reese.1996.Mediating The Message: Theories of Influences on Mass Media Content. Terdapat 5 faktor yang mempengaruhi isi media yakni : faktor individual, rutinitas media, organisasi, ekstra media, dan ideologi.

 

[2] http://aris-nugroho.blogspot.com “Pengantar Seminar : Komodifikasi Maskulinitas dalam Media Massa Modern”


[1] www.rakyatmerdeka.com Jejak Hitam Soeharto. Minggu, 21 Mei 2006. diunduh pada tanggal 16 Mei 2009.

 

Categories: Ilmu
  1. November 4, 2009 at 1:19 am

    najwa lalalala…
    enko nyuru akyu baca beginian?
    ohok ohok…

  2. mencarimaknahidup
    November 4, 2009 at 1:37 am

    ahak ahak kenapa dede?
    mantab kan! paper kuliah ni😀

  3. November 4, 2009 at 2:01 am

    aku bukan olang akademich kaya teteehh,,
    aku ga cuka deh papel2an cama cklipci2an… T.T
    tp cupaya olang tuaku cenang, bole la kita ngemeng2 dikit di cklicpi nya,..
    teteh bantuin dedee yuukk…😀

  4. awidjajanti
    November 4, 2009 at 5:05 am

    “tp cupaya olang tuaku cenang, bole la kita ngemeng2 dikit di cklicpi nya,..”

    tanda2 ketidak-ikhlasan

  5. Sadat ar Rayyan
    November 4, 2009 at 10:02 am

    yang aye inget dari film ini kalimat : darah itu merah jendral:mrgreen:

  6. mencarimaknahidup
    November 4, 2009 at 9:41 pm

    @awisawisan : bantu opo? bantu ngingetin kamu ya..:D
    nah lo ketauan mama!!! ndak ikutan ndak ikutan
    @sadat : nah kan pakde ini bukti hegemoni itu berhasil wkwkwkw😀

  7. nur
    November 5, 2009 at 6:26 am

    Dulu, jaman masih SD, sama pakguru diwajibin liat ni pilem. Dan sebagai media propaganda maka pilem ini bisa dikatakan telah berhasil mempengaruhi rakyat banyak, bahwa PKI itu jahat harus dibasmi, dan negara itu baik harus dibela. Karena akses informasi pada masa itu ga seperti masa sekarang ni kan. Coba aja jika pilem ini ditayangin di jaman sekarang terus sebagai pembandingnya adlh tayangan2 Metro X-files. Menurutku film dokumenter versi Metro x-files lebih mencerdaskan anak SD dibanding pilem G30/S PKI. Saya ga tahu, menurut ilmu komunikasi, apakah film dokumenter bisa dikatakan sbg media propaganda yg lebih efektif dinading film fiksi-sejarah atau film2 fiksi lainnya??

  8. mencarimaknahidup
    November 5, 2009 at 9:53 am

    @nur : sayangnya saya belum mengkaji lebih lanjut tentang film. tapi film dokumenter, film sejarah, itu masuk katagori dokudrama. yakni film yang based on history. peristiwanya pernah terjadi bukan fiksi, tapi kemasannya bisa jadi ada perubahan. Film-film macam ini memang digunakan sebagai upaya propaganda. Selain film G30S ada juga film2 perjuangan kemerdekaan (film revolusi) yang berusaha menanamkan ideologi tertentu. Hitler kala itu juga menggunakan film sebagai media propagandanya. Mungkin kemasan juga mempengaruhi. Film-film dengan alur yang jelas, tidak kaku biasanya lebih mudah diingat.. dishare aja kalo nemu bahannya mas. Terima kasih sudah mampir🙂

  9. November 6, 2009 at 5:11 pm

    ws : Ups ketauan mama.

    awidjajanti : kasianilah ws tante.

  10. bagus tejo pramono
    November 7, 2009 at 8:02 am

    oaallah yang namanya kuliah di media komunikasi ntu tugasnya ginian tho. enak banget.
    apa lagi jika filmnya yang akan dikupas pas film HEROES uhuk uhuk…

    saya belum pernah nonton ni film sampe habis, dan lebih suka pasang telinga dengar cerita dari mbah kakung. lebih menantang ceritanya, alami dan tak dibuat-buat. ^^

  11. mencarimaknahidup
    November 8, 2009 at 3:31 am

    @mas Bagus : ini salah satunya, tapi yo nggak ginian doang… tapi yang jelas ndak ada rumus2 fisika atau kimia itu oho oho… aku pernah ngupas film Heroes kok buat tugas UTS, pake teori postmodernisme hahaha mantab!

    waaahhhh saya juga suka didongengin mbah Kung dulu… hiks jadi kangen mbah Kung… :((

  12. November 25, 2009 at 6:50 am

    makalahnya anak komunikasi, gak apa.. terus di post makalah karya sendiri dari perkuliahannya mbak, bisa bermanfaat lho untuk pengunjung yang mencarinya dari google.. dan tentunya meningkatkan jumlah pengunjung di blog mbak rousta

  13. mencarimaknahidup
    November 29, 2009 at 7:21 am

    @rizki aji : hehe iya… daripada tersimpan di disk lapie kan lebih baik dibagi soalnya belum tentu layak masuk jurnal penelitian😀
    alhamdulillah ada yang ngerespon juga ke email saya😀

  14. Alfan F
    January 6, 2010 at 8:31 am

    Film terhoror yg pernah saya tonton.

  15. ampudisalojari
    April 3, 2010 at 9:45 pm

    film yang penuh dengan asap….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: