Home > Sajak > Pelajaran Kehidupan

Pelajaran Kehidupan

Rabu pagi

Mungkin tak ada yang istimewa

Seperti biasa, terjaga selepas subuh hanya sekedar bengong, tilawah, baca buku, kali ini nonton film hahaha

Well, pagi yang indah yang mungkin sayang dilewatkan jika hanya berdiam di rumah,

Karena ku tahu awal kehidupan dimulai di pagi hari

Tepat ketika matahari masih malu-malu

Mengintip rutinitas manusia di balik peraduan alaminya.

Kulangkahkan kaki, tak jauh, hanya mengusuri jalan yang biasa kulalui ke kampus

Ya, gang sawo..

Pagi hari rutinitas biasa mahasiswa, pedagang, hingga pengemis

Mungkin monoton tiap pagi, begit-begitu saja

Tapi kali ini kurasa agak berbeda

Setidaknya untukku.

Berawal karena perut lapar dan tak hendak rasanya makan nasi pagi-pagi

Lalu tak biasa, aku beli kue kecil 500an sebiji

Tak ada yang menarik

Hingga kudapati dengan ekor mataku seorang anak, usia SMP mungkin

Memberikan uang 1000 rupiah berupa pecahan 500an koin kepada seorang ibu tua

Ibu tua yang kesehariannya hanya menengadahkan tangan berharap tiap-tiap tangan yang lewat merogoh saku dan memberinya sekeping atau selembar..

Ya, jumlah yang biasa, tak banyak, kegiatan yang biasa

Tapi yang membuatku terharu dalam hati adalah

Aku kenal anak itu

Ia adalah anak yang biasa berjualan tisu di kantin kampusku

Yang sering menawarkan “Tisu kak…” dengan harga 2 kali lipat dari harga umum…

Ya anak itu, yang menwarkan tisu dagangannya dengan santun dan senyum, tidak memaksa…

Wow, pagi yang diawali dengan sebuah pelajaran…

Betapa tak layak jika ku mengeluh dengan apa yang kupunya saat ini

Aku pun belajar dari dia, seorang anak penjual tisu yang membantu orangtuanya selepas sekolah

Yang biasa kulihat di kampus dengan senyum dan santunnya

Ya anak itu…

Sebuah pelajaran kehidupan yang mungkin tak kudapat di bangku kuliah atau bangku ilmu-ilmu yang lain, secara teoretis…

Manusia itu pembelajar ya secara teoretis

Tapi tak sedikit yang justru berhasil dengan praktik

Yang kunamakan ini pelajaran kehidupan

Kudapati lagi satu makna hidup

Yakni ikhlas…

Ikhlas kala kita ingin membantu

Walau hanya dengan dua keping 500an

Ikhlas memberi

Walaupun harus menyisakan sedikit uang jajan

Dan aku mempelajarinya (lagi)

Dari seorang anak, ya seorang anak, bukan dosen, bukan guru, bukan ustad…

Setidaknya untuk hari ini…

Kehidupan yang akan mengajarkanku..

Karena aku mencari makna hidup

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang bahagia.” (An Nahl: 97)

Dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu Rasulullah shollallahu alaihi wassalam bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah subhanahu wa Ta’ala akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah, Allah akan mengangkat (derajatnya) (HR. Muslim)

Siapa yang meminta-minta padahal ia mampu maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak untuk dirinya bara api jahanam.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban).

Categories: Sajak
  1. Sadat Nurza
    December 16, 2009 at 2:58 am

    Kadang orang lain lah yang mengingatkan kita dari ketidakpedulian, keteledoran, dan kesombongan

  2. Ummu Dzulqarnain
    December 16, 2009 at 6:37 am

    Hem… [Kak Ani tersenyum]

  3. mencarimaknahidup
    December 16, 2009 at 8:27 am

    kadang kita menutup mata dari apa yang tak indah nampaknya, mengacuhkannya ketika kaki kita mengayun dari satu tempat ke tempat lainnya…
    ada banyak pelajaran tentang kehidupan sebenarnya, tiap jengkal, tiap rutinitas…
    tentu saja akan berbeda pikirku, pikirmu, pikirnya… ^^

  4. Fathia
    December 16, 2009 at 1:01 pm

    Ana jadi teringat obrolan ringan ana dengan seorang wanita pemulung. Sore itu ia baru saja selesai memeras keringat. Wajahnya lelah, namun ia tetap tegar mengingat anak semata wayangnya harus tetap menimba ilmu di sekolah.
    “Sudah makan, bu?”
    “Baru aja tadi neng, sepulang ‘nyari’ kenyang banget nih…” lalu ia tertawa renyah, dan berceloteh panjang tentang anaknya.

    Yaa… Saat matahari tengah meninggi, saat itu pula kehidupan dengan segala warna menyiratkan pelbagai makna. Harusnya kita fahami benar itu, tapi malah tak jarang kita enggan. Begitulah… Mata ini hampir terkatup oleh kemudahan-kemudahan yang terakomodir dengan indah. Bahkan terlalu indah hingga kita jadi bermanja, lalu lupa.

  5. December 17, 2009 at 3:38 am

    assalamu alaykum .

    bersyukurlah sifulan yang bisa mengambil pelajaran dalam perjalanan hidupnya di bumi ini. “Rabbana maa khalqta haadza baatila subhanaka faqinaa adzaabannaar “.

  6. December 23, 2009 at 8:27 am

    likes this… ^_^

  7. Desie Dwi
    January 10, 2010 at 6:46 am

    Subhanallah… membacanya sj menjadi terharu. Pelajaran berharga bagi siapapun yg bs mengambil hikmah di dalamnya. Alhamdulillah…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: