Home > Cerita > Jalan-jalan ‘bersama’ Mangut Ikan Patin…

Jalan-jalan ‘bersama’ Mangut Ikan Patin…

Mangut Ikan Patin

Pagi hari, saatnya berpikir nanti masak apa ya? Yang seharusnya lebih efektif dipikirkan malam sebelumnya… namun apa daya, malam hari penat sudah menumpuk hohoho…

Pagi ini, teringat keinginan zaujy (suamiku_red) untuk makan ‘mangut’, semacam gulai tapi bukan juga gulai yang berisi ikan. Makanan yang dulu sering dimakan waktu beliau masih SMA di Magelang. Bermodal resep yang dikirim oleh ayahanda tercinta melalui pesan singkat, saya putuskan buat masak mangut! Jeng jeng!

Jam 06.00 pagi saya dan zaujy jalan-jalan menikmati udara pagi yang sayangnya sudah berpolusi. Kali ini untuk belanja ke pasar depok Jaya. Pasarnya cukup bersih, nggak becek, dan banyak pilihan.

Berikut Bahan-bahan yang digunakan untuk memasak Mangut

1 ekor ikan patin (ikannya bisa diganti sesuai selera)

3 siung bawang merah

3 siung bawang putih

1 buah cabai merah besar

1 buah capai hijau besar

Lengkuas (iris) kurang lebih 1 sendok teh

Garam dan gula secukupnya

1 lembar daun jeruk

1 lembar daun salam

Santan secukupnya (saya pakai satu rantang / mangkuk sedang, penuh)

Kebetulan semua bahan sedang habis di rumah, jadi saya belanja untuk persediaan juga. Kalau ingin beli cabai besar, karena mungkin kebutuhannya tidak begitu besar, cukup beli masing-masing 2000 rupiah sudah bisa dapat 5-6 buah cabai. Untuk lengkuas beli 1 buah saja sudah cukup besar, bisa buat masak yang lain seperti asem-asem atau oseng. Daun salam dan daun jeruk beli 1000 rupiah saja sudah dapat banyak, banyak sekali buat ukuran rumah tangga yang anggotanya baru 2. Jadi beli 500 rupiah saja cukup. Bawang merah karena kebanyakan yang dijual basah (bawang merah kering lebih mahal) cukup beli 3000 saja buat masak selanjutnya. Kebetulan zaujy suka bikin telur dadar pakai bawang merah jadi lumayan cepet juga habisnya.  Kalau bawang putih lebih awet disimpan, bisa beli ¼ kilogram sekaligus.

Yang paling menarik saat membeli ikan. Di pasar depok jaya lapak penjual ikan dan daging tertata rapi. Ada spot buat jualan daging ayam mati (sudah dibului hahaha apa ya namanya… kondisi sudah telanjang tak ada bulu). Ada juga ayam hidup dimana kita bisa memilih ayam ‘segar’ langsung disembelih disana. Ada ayam potong ada ayam kampung… yang jelas banyak ayam hidup disana.

Satu spot lagi buat jualan ikan, ada ikan laut yang sudah dijual dalam keadaan mati. Ada juga ikan air tawar yang masih dijual hidup. Ada banyak sekali pilihan, udang, ikan kakap, cumi, tapi pilihan saya jatuh pada ikan patin. Bentuknya mirip lele tapi tak berkumis dan dagingnya jauh lebih lembut. Ikan patin itu cukup banyak lemak, jadi kalau digoreng pun lemaknya luruh ke minyak… kebetulan saya dan zaujy suka ikan berlemak macam patin. Sebenarnya ada juga ikan sejenis yakni ikan mujair laut. Yang sangat jarang bahkan mungkin tak ada yang jual disini. Biasa ayahanda kalau kerja ke laut suka mancing ikan ini.

Ikan patin itu besar, jadi cukup beli 1 ekor dan saya rasa cukup buat 3 kali makan haha… Saya beli 1 ekor yang beratnya 9 ons seharga 16.000 rupiah, nggak pake nawar. Mungkin kalau mau nawar bisa lebih murah. Selain karena zaujy tipikal yang nggak suka nawar (heemmm beliau memang sebisa mungkin kalau mampu beli nggak usah nawar, terutama kepada pedagang kecil atau pedagang keliling. Katanya “kamu mau nawar berapa? Nggak sebanding sama kerja keras mereka, bangun pagi, atau rasa lelah mereka buat keliling”. Hemmm tentu saja sebagai ibu rumah tangga pertimbangan kita bisa beda, menawar harga kan bisa menghemat pengeluaran…🙂

Oiya, Mangut juga bisa pakai ikan lele, atau ikan kakap.

Terakhir saya beli kelapa parut, praktis, sudah diparut dan bersih. Sebelumnya kamipun jalan-jalan di pasar, lihat daging, ayam, dsb.. heemmm buat ibu-ibu yang sudah punya anak yang udah bisa diajak pergi-pergi bisa diajak ke pasar lho… dia bisa belajar tentang transaksi jual beli, bisa belajar membantu ibunya membawa belanjaan. Tapi yang harus diperhatikan adalah langsung memandikannya ketika pulang. Karena buat anak yang rasa ingin tahunya tinggi waktu lihat ikan pasti pengen pegang. Sama seperti gadis kecil yangs aya lihat pergi belanja dengan ibunya. Usianya sekitar 2 tahun… dia jalan dari satu kios ikan ke kios yang lain.. mengamati ikan yang berenang, cukup lama, hingga tangannya siap masuk buat megang ikan.. tapi sayang gagal keburu ditarik sama ibunya hahaha…

Habis belanja buat mangut tak lupa beli kacang ijo dan gula merah.. lumayan buat penutup.. sehat dan baik pula buat ibu hamil😀

Kisaran belanja untuk mangutnya saja kurang lebih 20rb-25rb tergantung seberapa banyak bahan yang ingin dibeli.

Selanjutnya setiba di rumah saatnya memasak. Berikut cara memasaknya :

  1. Bersihkan ikan dari kotoran dan darah
  2. Goreng ikan patinnya (biar rasanya nggak tawar saya gorengnya pake bumbu : bawang merah, bawang putih, ketumbar, dihaluskan, dan garam. Ikan direndam dalam bumbu yang diberi air sebentar saja). Menggorengnya tak perlu lama-lama, jangan menunggu sampai coklat, karena ikan patin dagingnya sangat lembut jadi jika digoreng terlalu lama dia hancur. Kecuali jika mau bikin ikan patin goreng. Karena ini mangut, mereka akan direndam santan panas hohoho jadi jangan sampai hancur.
  3. Tiriskan ikannnya, kemudian siapkan bumbunya.
  4. Potong kecil kecil cabe merah, cebe hijau, bawang merah, bawang putih, lengkuas. Siapkan daun jeruk dan daun salamnya. Dan juga peras santannya.
  5. Kurangi minyak bekas memggoreng ikan. Setelah siap, tumis semua bumbunya… sampai harum. Setelah harum masukkan santannya.3Setelah santan mendidih masukkan ikan gorengnya, aduk-aduk, karena jika didiamkan santan akan mengental dan berbusa… jika tidak suka yang kental bisa ditambahkan air.
  6. Nah, setelah diicip-icip dan dirasa cukup, mangut siap disajikan. Tips dari saya, ajak suami buat nyicip juga… biar objektif hihi..  karena kebetulan saya suka asin, zaujy suka manis, jadi dia minta ditambah gula…:)
  7. Selamat mencoba teman-teman, semoga bermanfaat🙂

Berikut nasehat Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, “Jika engkau memasak sop maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

Categories: Cerita
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: