Home > Cerita > Elegi #season 2

Elegi #season 2

Jumat, 30 Desember 2010

Malam hari, hampir di penghujung tahun masehi 2010. Aku dan suamiku jalan-jalan melupakan penat siang hari sekedar berjalan bersama di malam hari. Lalu kami mampir di pusat perbelanjaan untuk membeli sedikit keperluan sehari-hari.
Hari mulai malam, dan kami pulang bersamaan dengan hampir ditutupnya semua kios di pusat perbelanjaan itu. lalu kami pun keluar kembali menghirup udara malam di jalanan depok yang sudah berpolusi. Perhatian kami kemudian tertuju pada sesosok anak kecil, disampingnya ada sebuah karung putih besar, dari situ kami berkesimpulan bahwa ia adalah anak pemulung. Dia tidak peduli dengan riuhnya kendaraan lalu lalang atau gemerlapnya manusia-manusia yang memenuhi jalanan dengan beragam tas belanjaan. Perhatiannya hanya tertuju pada satu lampu, ya hanya satu. Tidak peduli yang lain, sesekali menunduk, atau mendongak menatap langit.

Batinku tersentuh, sedang apa anak sekecil itu (usia SD) masih di luar malam-malam begini. Bukankah jalanan di malam hari bukan tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Lalu kami berinisiatif memberinya sesuatu, bukan uang yang jelas. Sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam yang tak seberapa aku bertanya padanya.
“adek lagi ngapain di sini malam-malam?”

kemudian ia menjawab dengan wajah polosnya, hitam tapi bersih, dengan nada rendahnya yang sopan

“lagi nunggu bapak”

Sedikit senyum akhirnya mampu tampil di wajahku, lega, setelah tahu bahwa ia menunggu bapaknya. Setidaknya berarti ia tak sendirian, ia tidak tidur di pinggiran jalan. Ya, hanya mampir sebentar, menunggu bapaknya untuk pulang bersama. Lalu aku dan suamiku pun meninggalkan dia, dengan sedikit pesan agar dia berhati-hati.

Dalam perjalanan pulang, kami terdiam sejenak. Miris, dan sungguh tidak tega melihat anak-anak seperti adik kecil tadi. Masa kanak-kanak yang seharusnya tidak dihabiskan di antara tumpukan sampah bahkan hingga malam hari. Mata adik kecil yang kulihat menatapku dengan sayu, karna mengantuk, yang seharusnya ia sudah tidur pada jam-jam seperti itu. Tapi Allah Maha Besar, Ia ciptakan manusia dengan berbagai rupa sekaligus dengan perbedaan keadaan. Miskin kaya, susah senang, dan sebagainya.

Sungguh, sudah fitrah manusia untuk bisa merasa iba atas keadaan saudaranya yang kurang beruntung. Namun tidak sedikit manusia yang tidak mengindahkan rasa itu. Menepis, tak mau tahu.

Adik kecil pemulung, sekali lagi memberiku pelajaran. Betapa bodohnya aku jika masih mengeluh dengan keadaanku saat ini, keadaan dimana aku jauh lebih beruntung daripadanya. Betapa sia-sianya jika aku selalu melihat ke atas, melihat kondisi orang lain yang ‘lebih’ dariku. Luar biasa ketika Allah memerintahkan hambanya untuk senantiasa bersyukur. dan adik kecil itu pun mengingatkanku.

Adik kecil pemulung, memberiku semangat untuk kembali memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Setidaknya suatu hari nanti, InsyaAllah akan kutanamkan pada anak-anakku pelajaran serupa. Tak jarang kita tak pernah tahu esensi dari teori-teori kemanusiaan yang kita dapat, tapi kehidupan lah yang mengajarkan kita.

Adik kecil pemulung, sebuah elegi perkotaan. Seolah tak terlihat dalam gempita perayaan tahun baru yang dilakukan sebagian besar manusia. Lengkap dengan kemewahan, menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Ia bekerja membantu orang tua dalam kekurangan sementara manusia lain dengan sombong meniup terompet, pesta hingar bingar. Ironis.

Di sisi lain adik kecil pemulung, ku rasa jauh lebih berharga dibanding mereka yang merendahkan diri dengan meminta-minta atau menjajakan suara dan musik yang tak enak didengar yang lebih buruh lagi tentu diharamkan agama (Islam).
Subhanallah… kehidupan ini menyentuh hatiku dari banyak sisi… Allah Maha Besar…

Dari Samuroh bin Jundub radhiyallahuanhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya meminta-minta sama seperti seseorang menggores wajahnya sendiri kecuali jika dia meminta kepada penguasa atau meminta karena darurat”(Sunan Turmudzi: 2/65 no: 681 dan dia berkata: Hadits hasan shahih)

Dari Zubair bin Awwam radhiyallahuanhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sungguh salah seorang di antara kalian memikul kayu bakar di atas punggungnya lalu menjualnya dan Allah menjaga wajahnya dengan hal tersebut dari (meminta-minta) lebih baik baginya daripada mengemis kepada orang lain apakah mereka memberinya atau menolaknya” (Shahih Bukhari: 1/456 no: 1471)

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar Rahman : 13)

“Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui (QS. Al-Baqarah: 273)

 

http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Larangan_Meminta_Minta.pdf

http://opi.110mb.com/haditsweb/quran/s55_ar_rahmaan.htm

Categories: Cerita
  1. Hanip
    December 31, 2010 at 4:32 am

    Pertamax di Blog istri…..

    Pemulung biasanya beda dengan anak jalanan. Pemulung ada yang masih sekolah, tapi kalo malem membantu orang tua. Sebuah contoh anak yang berbakti sama orang tua….

    • mencarimaknahidup
      December 31, 2010 at 4:34 am

      hihihi,,, pertamax dari suami…
      iya, semoga anak kita ntar berbakti sama orang tua yaa…🙂

  2. December 31, 2010 at 5:48 am

    suami istri. Kesian ya anak itu. Tak mampu ak.

  3. mencarimaknahidup
    January 3, 2011 at 6:43 am

    dholep :

    suami istri. Kesian ya anak itu. Tak mampu ak.

    kira kira siapa ya ini?

  4. January 7, 2011 at 3:48 am

    kekna awis noh yg komen di atas😛

    iyah kita mesti byk bersyukur ya rotss.. tentunya dgn mlihat ke bawah..bahwa lbih byk yg lbih menderita dbanding kita…

  5. mencarimaknahidup
    March 24, 2011 at 8:59 am

    Afra Afifah :

    kekna awis noh yg komen di atas :P

    iyah kita mesti byk bersyukur ya rotss.. tentunya dgn mlihat ke bawah..bahwa lbih byk yg lbih menderita dbanding kita…

    kayaknya Cira deh Af… dholep is dony maybe

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: